Seni

Seni

Jumat, 08 November 2013

Pria Di Ujung Jalan

Kriiiiinnggg.........!!!!
Owh my God,,, berisiknya, mimpi indahku pagi ini hancur sudah karena suara menyebalkan dari jam weker di atas tempat tidurku. Padahal aku sedang memimpikan pria idamanku. Kuangkat kedua tanganku seperti ditodong oleh polisi sambil bangkit dari ranjangku.
“ Udah cepet bangun,, kan janji mo bantuin mama belanja kepasar hari ini” kata mama dari depan pintu kamarku yang ternyata lupa aku tutup.
“ Heeemmm,, iya mama....... gag lupa kok”
“ Gak lupa, gak lupa... janji nemenin papa ke masjid tadi subuh aja lupa”
“ Hehe,,, kan ketiduran ma” kataku dengan pose tangan memegang kepala dan wajah sok memelas.
“ Udah cepet sana mandi, ntar kesiangan gag dapet apa-apa lagi dipasar.”
Aku langsung meraih handuk di gantungan baju sebelah lemariku, dan berjalan menuju kamar mandi yang letaknya tepat didepan tempat tidurku. Yah, daripada aku harus mendengar ceramah indah dari mama.

           OMG.......... Mimpi apa aku tadi malam, pasar penuh sesak sekali dengan orang, udah kayak ada acara konser aja. Aku langsung bergegas membeli semua barang yang tercatat di daftar belanja yang mama tuliskan tadi. Biar aku segera pergi dari tempat konser musik para pedagang ini. Yah, yah,,, semoga saja.

           1..2...3...4...5.....6.....7.... Wow 7 kantong. Aku belanja sampai 7 kantong plastik. Aduuuuh,, apa kata orang-orang yang aku temui dijalan nanti ya??? Jangan sampai mereka berpikir kalau akau adalah janda kembang yang mau pindah rumah. Huuuuffttt.............
          Jalan sesak ini membuatku sulit memandang kedepan, apalagi dengan beban 7 kantong plastik yang ada di tanganku. Pada saat seperti ini aku berharap punya kaca spion, agar gag perlu tertabrak orang nantinya pas mau belok.
          Guubbrraak.........!!!
Oh,,, baru saja aku berharap jangan sampai menabrak orang.
“ Maaf ya,,, aku gag liat kamu tadi “
“ iya gag apa-apa kok,,, aku yang lupa liat kiri kanan pas mau nyebrang” kataku sambil bangkit dari tempat aku terjatuh dan asik membersihkan bagian belakang badanku yang kotor.
“ Liat kiri kanan, emank motor”
Mendengar kata itu aku langsung tertawa dan menoleh kearah asal suara itu.
          Oh,, tidak. Benarkah ini,,, jantungku seperti berhenti berdetak sejenak, dan nafasku,, nafasku juga sangat sesak. Aku juga tak tau kenapa. Mungkin karena pria yang baru saja menabrakku sangat keren dan ganteng.
          “ Kamu gag apa-apa???” tanyanya sambil meletakkan tangannya didepan mataku yang masih setengah sadar.
          “ Oh,,,, iya... aku gag apa-apa kok”
          “ Sekali lagi aku minta maaf ya.......... ini barang-barang kamu”
          “ Iya terima kasih”
          “ Kalau gitu aku duluan ya.......”
          “ iya.........” aku masih setengah hidup saat berkata itu, dan memandangi langkahnya menjauh dari ku. Beberapa detik kemudian,,
“ Oh iya......!! dia siapa........!!!”
          Sayang sekali, bayangannya pun sudah tak bisa aku lihat lagi. “ Sudahlah, kalau jodoh pasti ketemu lagi” kataku sambil melanjutkan perjalanan melelahkanku.

          “ Nanti sholat subuh bareng papa ya ken di masjid” kata papa saat kami sedang makan malam.
          “ Males ah pa, Niken kan capek banget hari ini abis bantuin mama belanja kepasar ” jawabku dengan mimik wajah sok kecapekan.
          “ Niken,, kan kamu udah janji sama papa kemaren mau kemasjid bareng, masak gag jadi lagi???” sahut mama yang baru saja menuangkan air minum kedalam gelasku.
          “ Iya deh pa, tapi ntar bangunin ya.........”
          “ Berees,, ntar papa bangunin.......” Kata papa sambil tersenyum.

           Allahuakbar........... Allahuakbar.....................
Suara adzan itu benar-benar terdengar ditelingaku,aku langsung bergegas bangun menuju kamar mandi untuk berwudhu. Entah malaikat apa yang sedang merasukiku pagi ini.
          “ Oh, udah bangun to...., baru mau papa bangunin tadi” kata papa yang menjumpaiku di depan pintu kamarku. Aku hanya tersenyum dan menaikkan kedua mataku, dan kami langsung bergegas menuju masjid yang letaknya tepat diseberang jalan rumahku.

           Sudah hampir 15 menit aku berdiri di depan masjid, tapi papa gag keluar juga. Mungkin sedang bertemu dengan temannya didalam, tapi aku harus menunggunya disini. Hhhhuuuffttt,,, sangat membosankan.
“ Maaf, kamu menginjak sandalku..........” kata orang dari belakangku. Aku terkejut dan langsung beranjak dari tempat aku berdiri.
“ Aduh maaf ya aku gag tau..........” kataku dengan menolehkan wajah ke hadapannya. Dia hanya tersenyum kepadaku. Aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana ya???. Oh ya, dia yang menabrakku kemarin siang.
“ Kamu yang kemarin siang kan???” todongku padanya.
“ Kamu masih ingat ya....... Iya, aku yang nabrak kamu”
“ Ternyata dunia gag selebar daun kelor ya” kataku sambil duduk ditangga masjid. Aku benar-benar tak menyangka kalau dia juga kan duduk ditempat yang sama.
“ Aku Hendra,,,,” kenalnya dengan menyodorkan tangan kanannya.
“ Niken.... ” jawabku sambil menerima jabatan tanganya. Bisa bayangkan perasanku waktu itu?, sangat bahagia. Kami membicarakan banyak hal yang sangat menarik. Tentang kejadian tadi siang, tentang masjid, dan tentang banyak hal. Dia benar-benar pria yang sangat menarik dan asyik diajak bicara. Benar-benar seperti pria idamanku yang sering aku impikan.
          Setiap hari, setiap saat, aku selalu meluangkan waktuku untuk bertemu dengannya. Yang kebetulan beraktifitas di lingkungan sekitar masjid. Hendra kah  motivasiku sering ikut papa kemasjid,,? entahlah,,... aku tak tau,,,...... mungkinkah aku telah melenceng dari niat baik ibadahku. Ampuni aku ya Allah.

           “ Aku pulang dulu ya ken,, Assalamualaikum.....” 
          “ Walaikumsalam,, hati-hati dijalan ya kak...... ”
Berpamitan seperti sepasang kekasih, sungguh sangat manis. Aku masih memandanginya berjalan menjauhi masjid,saat aku tengah membersihkan kaca masjid. Iya, aku kini jadi relawan pememelihara masjid di komplek tempat tinggalku.
          “ Akrab banget ken sama bang Hendra???” tanya seseorang di sebelah ku. Aku langsung terkejut dan mengalihkan pandanganku.
          “ Eh Dinda,, iya din. Kak hendra nya baik banget sih” jawab ku sambil tersenyum.
          “ Iya, bang Hendra memang orang yang baik, alim, ganteng lagi”
Aku tersenyum mendengar pernyataan Dinda, dan merasa tak salah bila aku sangat menyukainya.
“ Kamu kenal baik sama kak Hendra ya Din?”
“ Lumayan sih Ken, Dia dulu tinggal di Bandung. Jadi santri disalah satu pesantren besar disana katanya ”
“ Oh gitu to,, Kok bisa pindah kesini ya Din?? Padahal Bandung kan keren banget ya”
“ Pak haji Abdullah yang ajak dia kemari”.
“ Oh,, berarti kak Hendra dulu santrinya pak Abdullah ya ”
“ Iya dulu, tapi sekarang kan beda”
Aku sedikit ragu dan takut mendengat kata-kata Dinda yang terpotong. Dan segera menanyakan pertanyaan selanjutkan untuk meyakinkan hatiku.

          “ Beda kenapa din??” tanyaku dengan tidak sabar.
          “ Lho Kamu belum tau ya Ken, bang Hendra kan menantunya pak Abdullah, Dia suaminya Kak Nina, anak terakhir pak Abdullah ”

          Seperti mendengar petir disiang bolong mendengar pernyataan Dinda. Entah harus sedih atau lega, tapi aku benar-benar terpukul. Aku telah benar benar jatuh cintanya, yang ternyata telah memiliki seorang istri.
Lap yang aku genggam terjatuh dari tanganku, begitu juga aku. Aku langsung terduduk dilantai Masjid.

          “ Niken kamu kenapa..?!” tanya dinda dengan cemas.
          “ Dinda...............

   Aku gak mau ngerasain Cinta terlarang..........” isakku dengan tetesan air mata.         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar