Kriiiiinnggg.........!!!!
Owh my God,,, berisiknya, mimpi indahku pagi ini hancur sudah karena suara
menyebalkan dari jam weker di atas tempat tidurku. Padahal aku sedang
memimpikan pria idamanku. Kuangkat kedua tanganku seperti ditodong oleh polisi
sambil bangkit dari ranjangku.
“ Udah cepet bangun,, kan janji mo bantuin mama belanja kepasar hari ini”
kata mama dari depan pintu kamarku yang ternyata lupa aku tutup.
“ Heeemmm,, iya mama....... gag lupa kok”
“ Gak lupa, gak lupa... janji nemenin papa ke masjid tadi subuh aja lupa”
“ Hehe,,, kan ketiduran ma” kataku dengan pose tangan memegang kepala dan
wajah sok memelas.
“ Udah cepet sana mandi, ntar kesiangan gag dapet apa-apa lagi dipasar.”
Aku langsung
meraih handuk di gantungan baju sebelah lemariku, dan berjalan menuju kamar
mandi yang letaknya tepat didepan tempat tidurku. Yah, daripada aku harus
mendengar ceramah indah dari mama.
OMG.......... Mimpi apa aku tadi
malam, pasar penuh sesak sekali dengan orang, udah kayak ada acara konser aja.
Aku langsung bergegas membeli semua barang yang tercatat di daftar belanja yang
mama tuliskan tadi. Biar aku segera pergi dari tempat konser musik para
pedagang ini. Yah, yah,,, semoga saja.
1..2...3...4...5.....6.....7.... Wow 7
kantong. Aku belanja sampai 7 kantong plastik. Aduuuuh,, apa kata orang-orang
yang aku temui dijalan nanti ya??? Jangan sampai mereka berpikir kalau akau
adalah janda kembang yang mau pindah rumah. Huuuuffttt.............
Jalan sesak ini membuatku sulit
memandang kedepan, apalagi dengan beban 7 kantong plastik yang ada di tanganku.
Pada saat seperti ini aku berharap punya kaca spion, agar gag perlu tertabrak
orang nantinya pas mau belok.
Guubbrraak.........!!!
Oh,,, baru saja
aku berharap jangan sampai menabrak orang.
“ Maaf ya,,, aku gag liat kamu tadi “
“ iya gag apa-apa kok,,, aku yang lupa liat kiri kanan pas mau nyebrang”
kataku sambil bangkit dari tempat aku terjatuh dan asik membersihkan bagian
belakang badanku yang kotor.
“ Liat kiri kanan, emank motor”
Mendengar kata
itu aku langsung tertawa dan menoleh kearah asal suara itu.
Oh,, tidak. Benarkah ini,,, jantungku
seperti berhenti berdetak sejenak, dan nafasku,, nafasku juga sangat sesak. Aku
juga tak tau kenapa. Mungkin karena pria yang baru saja menabrakku sangat keren
dan ganteng.
“ Kamu gag apa-apa???” tanyanya sambil
meletakkan tangannya didepan mataku yang masih setengah sadar.
“ Oh,,,, iya... aku gag apa-apa kok”
“ Sekali lagi aku minta maaf
ya.......... ini barang-barang kamu”
“ Iya terima kasih”
“ Kalau gitu aku duluan ya.......”
“ iya.........” aku masih setengah
hidup saat berkata itu, dan memandangi langkahnya menjauh dari ku. Beberapa
detik kemudian,,
“ Oh iya......!! dia siapa........!!!”
Sayang sekali, bayangannya pun sudah
tak bisa aku lihat lagi. “ Sudahlah, kalau jodoh pasti ketemu lagi” kataku
sambil melanjutkan perjalanan melelahkanku.
“ Nanti sholat subuh bareng papa ya
ken di masjid” kata papa saat kami sedang makan malam.
“ Males ah pa, Niken kan capek banget
hari ini abis bantuin mama belanja kepasar ” jawabku dengan mimik wajah sok
kecapekan.
“ Niken,, kan kamu udah janji sama
papa kemaren mau kemasjid bareng, masak gag jadi lagi???” sahut mama yang baru
saja menuangkan air minum kedalam gelasku.
“ Iya deh pa, tapi ntar bangunin
ya.........”
“ Berees,, ntar papa bangunin.......”
Kata papa sambil tersenyum.
Allahuakbar...........
Allahuakbar.....................
Suara adzan itu
benar-benar terdengar ditelingaku,aku langsung bergegas bangun menuju kamar
mandi untuk berwudhu. Entah malaikat apa yang sedang merasukiku pagi ini.
“ Oh, udah bangun to...., baru mau
papa bangunin tadi” kata papa yang menjumpaiku di depan pintu kamarku. Aku
hanya tersenyum dan menaikkan kedua mataku, dan kami langsung bergegas menuju
masjid yang letaknya tepat diseberang jalan rumahku.
Sudah hampir 15 menit aku berdiri di
depan masjid, tapi papa gag keluar juga. Mungkin sedang bertemu dengan temannya
didalam, tapi aku harus menunggunya disini. Hhhhuuuffttt,,, sangat membosankan.
“ Maaf, kamu menginjak sandalku..........” kata orang dari belakangku. Aku
terkejut dan langsung beranjak dari tempat aku berdiri.
“ Aduh maaf ya aku gag tau..........” kataku dengan menolehkan wajah ke
hadapannya. Dia hanya tersenyum kepadaku. Aku seperti pernah melihatnya, tapi
dimana ya???. Oh ya, dia yang menabrakku kemarin siang.
“ Kamu yang kemarin siang kan???” todongku padanya.
“ Kamu masih ingat ya....... Iya, aku yang nabrak kamu”
“ Ternyata dunia gag selebar daun kelor ya” kataku sambil duduk ditangga
masjid. Aku benar-benar tak menyangka kalau dia juga kan duduk ditempat yang
sama.
“ Aku Hendra,,,,” kenalnya dengan menyodorkan tangan kanannya.
“ Niken.... ” jawabku sambil menerima jabatan tanganya. Bisa bayangkan
perasanku waktu itu?, sangat bahagia. Kami membicarakan banyak hal yang sangat
menarik. Tentang kejadian tadi siang, tentang masjid, dan tentang banyak hal.
Dia benar-benar pria yang sangat menarik dan asyik diajak bicara. Benar-benar
seperti pria idamanku yang sering aku impikan.
Setiap hari, setiap saat, aku selalu
meluangkan waktuku untuk bertemu dengannya. Yang kebetulan beraktifitas di
lingkungan sekitar masjid. Hendra kah motivasiku sering ikut papa kemasjid,,?
entahlah,,... aku tak tau,,,...... mungkinkah aku telah melenceng dari niat
baik ibadahku. Ampuni aku ya Allah.
“ Aku pulang dulu ya ken,,
Assalamualaikum.....”
“ Walaikumsalam,, hati-hati dijalan ya
kak...... ”
Berpamitan
seperti sepasang kekasih, sungguh sangat manis. Aku masih memandanginya
berjalan menjauhi masjid,saat aku tengah membersihkan kaca masjid. Iya, aku
kini jadi relawan pememelihara masjid di komplek tempat tinggalku.
“ Akrab banget ken sama bang
Hendra???” tanya seseorang di sebelah ku. Aku langsung terkejut dan mengalihkan
pandanganku.
“ Eh Dinda,, iya din. Kak hendra nya
baik banget sih” jawab ku sambil tersenyum.
“ Iya, bang Hendra memang orang yang
baik, alim, ganteng lagi”
Aku tersenyum mendengar pernyataan Dinda, dan merasa tak salah bila aku
sangat menyukainya.
“ Kamu kenal baik sama kak Hendra ya Din?”
“ Lumayan sih Ken, Dia dulu tinggal di Bandung. Jadi santri disalah satu
pesantren besar disana katanya ”
“ Oh gitu to,, Kok bisa pindah kesini ya Din?? Padahal Bandung kan keren
banget ya”
“ Pak haji Abdullah yang ajak dia kemari”.
“ Oh,, berarti kak Hendra dulu santrinya pak Abdullah ya ”
“ Iya dulu, tapi sekarang kan beda”
Aku sedikit ragu
dan takut mendengat kata-kata Dinda yang terpotong. Dan segera menanyakan
pertanyaan selanjutkan untuk meyakinkan hatiku.
“ Beda kenapa din??” tanyaku dengan
tidak sabar.
“ Lho Kamu belum tau ya Ken, bang
Hendra kan menantunya pak Abdullah, Dia suaminya Kak Nina, anak terakhir pak
Abdullah ”
Seperti mendengar petir disiang bolong
mendengar pernyataan Dinda. Entah harus sedih atau lega, tapi aku benar-benar
terpukul. Aku telah benar benar jatuh cintanya, yang ternyata telah memiliki seorang
istri.
Lap yang aku
genggam terjatuh dari tanganku, begitu juga aku. Aku langsung terduduk dilantai
Masjid.
“ Niken kamu kenapa..?!” tanya dinda
dengan cemas.
“ Dinda...............
Aku gak mau ngerasain Cinta
terlarang..........” isakku dengan tetesan air mata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar