Seni

Seni

Kamis, 07 November 2013

Hujan

Dingin,, sangat dingin. Saat air mulai menetesi atap dunia yang maha luas, aku tetap melanjutkan lamunanku di depan jendela bening kamarku. Menatap langit yang warnanya kian sama dengan kabut, mendengar nyanyian butiran air yang memukul-mukul atap rumahku. Aku sangat menikmatinya, sungguh.
Semakin jam berputar didepan mataku, semakin aku terhanyut dalam kenangan ku. Iya, kenangan yang menurut pikiranku amat indah, kenangan yang mungkin tak akan pernah dapat ku format seumur hidupku. Kenangan ku, tentang dia. Raffa.
Dulu, setiap jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 01.00 siang. Aku selalu memutarkan kursi rodaku untuk merangkak di depan jendela. Iya, untuk melihat anak-anak yang pulang sekolah. Karena didepan rumahku berdiri megah SMA Ksatria Bangsa. Sejak kecil, aku ingin sekali bersekolah di sma mewah itu. Namu karena keterbatasan kaki ku untuk bergerak, mama dan papa memilih untuk memberikan ku home schooling. Kedengaran mahal memang, tapi taukah kau betapa kesepiannya seorang siswa home schooling. Tanpa teman, tanpa bangku sekolah dan tentunya tanpa kantin tempat berkumpul semua kakak kelas idolamu.
Sangat membosankan. Tapi, aku sebenarnya tidak dilahirkan sebagai seorang gadis penyandang cacat. Hanya karena kecelakaan mobil yang aku alami saat umurku baru 9 tahun, terpaksa aku harus menghabis kan waktu ku diatas alat yang sangat indah ini. Setidaknya itu yang aku katakan untuk menghibur diriku.
Hari itu hari kamis tanggal 16 juni, aku sangat ingat dengan tanggal dan harinya. Hari itu hujan menguyur seluruh bagian kota sejak mulai pagi hari. Jalan-jalan tampak sepi tanpa aktifitas masyarakatnya. Hanya titik-titik air hujan yang berlomba ingin segera mencapai aspal dan menggenanginya. Saat aku tengah asik dengan pandanganku terhadap langit, hingga aku dikejutkan oleh suara kursi terasku yang ditabrak orang.
Gubrak!!!
Aku langsung mengalihkan penglihatanku ke arah teras.
Oh rupanya ada orang berteduh. Kataku dalam hati saat aku melihat bagian punggung orang tersebut. Tak ada niatku untuk basa-basi mewarkan handuk pengering atau hanya sekedar mempersilahkannya masuk agar ia menikmati suhu yang  lebih hangat.
Gak penting.
Kataku kembali.
Tapi,,
Taukah kau apa lagi keputusanku saat orang itu menolehkan wajahnya kebagian depan jendela kamarku??
Owh My God..........
Keren bangetttt............
Kerlingan sebelah matanya yang menahan air hujan dan tetesan air dari rambut cepaknya membuatnya terlihat sangat eksotis dan mengagumkan.
“ Inikah pangeran hujan yang telah dikirimkan Tuhan untuk menemani hari-hari ku yang Ngebioringin ini..?” ucapku sambil meletakkan kedua belah tanganku diatas bibir. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung meraih handuk yang tertata rapi diatas lemari kayuku, dan dengan sekuat tenaga segera megayuh kursi rodaku kearah pintu depan.


“Maaf,, aku hanya menumpang berteduh sebentar ” katanya sambil menyibakkan lusinan butiran air dari rambutnya.
“Owh, iya. Gak apa-apa kok. Mau pakai handuk??”
“Terima kasih.....” katanya dengan meraih handuk dari genggamanku yang aku sodorkan tadi. Mungkin ia melihatku sebagai sosok aneh yang sangat menggemari kursi roda. Tapi, entahlah. Senyumannya seperti tak akan memikirkan hal itu.
“Jangan duduk disitu........! ” kataku dengan nada sedikit berteriak karena kaget. “ Kursinya basah, duduk didalam aja.”
“Oh, baiklah. Terima kasih”
Dia berjalan memasuki ruang tamuku dan duduk tepat di hadapan kursi rodaku. Yah, hanya jarak satu meja saja.
“ Anak Ksatria bangsa ya??”
“ Heem,, kok tau??”
“ Seragam kamu...”
 Ow iya. Oh aku Raffa”
 Weni”
Kusebutkan namaku dengan menerima jabatan darinya. Oh tak disangka kami cepat sekali akrab, dengan ribuan materi perbincangan yang sebenarnya juga tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Mungkin 2 jam, atau 3 jam sampai hujan benar-benar berhenti menetes kami bicara. Tanpa ingat pula aku untuk membawakannya secangkir teh untuk menghangatkan badan. Raffa, dia seperti keajaiban buatku.
Besoknya, ia berteduh kembali di depan rumahku karena memang bulan ini sedang musim hujan. Dan bahkan ia juga mampir tanpa hujan yang menghantarkannya kerumahku. Dan mulai saat itu aku yakin, dia lah yang nantinya kan menemaniku dikala hujan. Dan keyakinan itu tetap ku pegang sampai papa dan mama mebawaku operasi kaki di Singapura.
Yah, tadinya bekal terkuatku menjalani operasi kaki ini adalah senyumannya. Karena aku bukanlah orang yang bisa menegakkan kepala di hadapan dokter. Namun, aku salah. Ternyata operasi ini tak menolong apa-apa, kecuali membuarku tak bisa melihat Raffa lagi.
1 bulan aku meninggalkan rumah, mungkin dia mengunjungiku. Tapi aku tak tau, karena saat aku kembali kerumahku dan berdiri dengan kakiku. Aku tak pernah melihatnya lagi.
Hujan, mungkin itu yang dapat mengantarkanya kerumahku lagi, tapi aku salah lagi. Dia tak penah kembali. Entah berapa juta kali jam itu berputar menemaniku menunggu kedatangan Raffa, sampai aku sadar telah bertabah 6 digit angka tahun kalenderku sejak terakhir kali aku melihatnya.


“Raffa, masihkah kau mengenangku??” ucapku sampai aku tersadar bahwa sejak keluar dari kantor tadi aku masih berdiri diatas trotoar dan kini air hujan mulai membasahi rambut panjangku. Aku menutupi kepalaku dengan tangan dan segera berlari kearah halte bis disebrang jalan itu.
Saking dekatnya tanganku menutupi mataku, aku sampai tidak melihat bahwa ada orang yang juga berlari kearah halte dari arah yang berlawanan denganku. Oh, aku hampir menabraknya.
“ Maaf, tadi aku gag liat kamu”
“ Hhmmm, gag apa-apa ”
OMG,, suara itu bukan petir yang mengagetkanku kan??.. Lalu apa, ?? tapi aku sangat mengenal suara itu. Dan buru-buru aku membuang tanganku dari atas kedua mataku dan menoleh kearah pria disampingku. Ini bukan mimpikan..........
“Raffa.........”

Wajah maskulin yang tetap sama saat hujan dulu diteras rumahku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar