Aku
tidak pernah tau siapa dia. Iya, tidak pernah tau. Bahkan sampai aku meletakkan
hatiku didalam hatinya. Aku juga tetap tidak tau siapa dirinya. Yang aku tau
hanyalah, dia mencintaiku. Dan itu yang membuatku mencintainya.
Arga
alvero, itulah satu-satunya yang aku tau tentang dia, namanya. Itupun baru aku
ketahui dalam surat yang dia tulis untukku saat terakhir kali aku melihatnya.
Setidaknya sebelum dia pergi meninggalkankku dan berjanji akan kembali lagi.
Mungkin itu alasanku kenapa aku menunggunya, dan memiliki alasan untuk
mencintainya.
Cerita
itu bermula enam bulan yang lalu, saat aku masih duduk dikelas satu semester
satu di SMA Jati Mulya. Sekarang aku sudah masuk ke semester dua. Aku merupakan
anak baru banyak yang banyak menyita perhatian para kakak kelas. Iyah, itu karen
aku adalah satu-satunya calon murid yang paling membangkang pas masa orientasi.
Jadi mereka banyak kenal sama aku dech.
Aku
rasa dia adalah kakak seniorku waktu itu, tapi aku tak pernah tau. Aku hanya
tau orang-orang sering bilang kalo dia selau memperhatikan aku dan selalu ada
dimanapun aku berada. Huft, menggangu
banget rasanya.
Aku
tidak pernah mempedulikannya. Yah, sama sekali tidak pernah mempedulikannya.
Mungkin karena terlalu terhanyut dengan kepopuleranku yang aktif menjadi
anggota OSIS. Padahal tujuanku menjadi anggota OSIS hanya lah untuk supaya
lebih dekat dengan kakak senior idolaku, Kak Reza sang ketua OSIS.
“
Eh Cin, kak reza nyariin kamu tu tadi” ucap via saat dia baru nemuin aku duduk
di kantin.
“ Ha..
Seriusan lu vi..???” sambut semangat dengan pernyataan via tadi.
“ iyah
serius gue, emank keliatan becanda apa yah. Itu ditunggu diruang osis katanya”
“oke-oke
gue kesana sekarang yah.” Girangku sambil langsung berdiri dan hendak berlari.
“Eh
mau kemana lu, tunggu dulu.” Via malah mencegahku dengan tarikan tangannya.
“apaan
lagi sih vi, gue buru-buru nih.
Tar kak rezanya keburu pergi kali. Kan lumayan ni pagi-pagi gue bisa ketemu dia
kan.”
“
Eh tunggu dulu, tu liat pemuja rahasia lu. Emank gag pernah absen yah dia
ngikutin lu.” Kata via sambil mengarahkan wajahnya ke bangku yang ada di pokok
kanan kantin.
Iya,
disana memang sedang duduk seorang pria dengan seragam sma yang memiliki wajah
lumayan tampan, tapi aneh. Dan orang-orang bilang dia adalah pemuja rahasiaku,
karena dimana ada aku disitu juga ada dia.
Aku
melihat kearah yang dituju wajah via, pria itu melihatku. Tapi ekspresinya
datar. Benar-benar aneh.
“
udah ah, orang aneh gitu gag usah diurusin yah.” aku berlari meninggalkan via yang
menggantikanku duduk dikursi kantin tadi.
*
“kak
reza cari saya?” sapaku ketika meihat sosok kak reza yang lagi duduk di kursi
ketua osis.
“
oh iyah cindy, sini duduk gih” perintah kak reza sambil menarikkan kursi
disebelahnya untukku. Sumpah, ini benar-benar mebuatku deg-degan.
“
ada yang bisa saya bantu kak?” tanyaku sembari aku duduk.
“
ada, kamu kamu mau kan jadi ketua panitia acara sekolah peduli minggu depan?”
Wah,
kak reza menawari aku menjadi ketua panitia di kegiatan bulanan sekolah. Aku
gag mimpikan?. Langsung saja aku iyakan permintaanya tak lebih dari 10 detik
aku perpikir.
“
iyah kak mau”
“
oke kalo begitu nanti sore kita rapat yah”
Aku
pergi meninggalkan ruang osis saat bel tanda masuk sekolah berbunyi, begitupun
kak reza. Kalian bisa bayangkan bagaimana perasaanku waktu itu? bahagia luar
biasa.
“
vi lu tau tadi kak reza bilang apa sama gue?” todongku ke via saat kulihat dia
sedang duduk dikursinya.
“
ha apa? Doi nembak lu yah?”
“
ih bukan lah”
“
wah, gag seru lah”
“
eh tetep seru kali, dia minta gue jadi ketua panitia kegiatan sekolah peduli.
Hebatkan ?”
“
dimana hebatnya? Itu artinya lu bakal jadi pengemis yang minta-minta barang
bekas dan sumbangan kelas-kelas. Lu kok mau sih?”
“ Whatever lah, yang penting gue bisa
dekat sama kak reza.”
Aku
dan via tak lagi melanjutkan perbincangan kami,
karena buk rahma guru matematika sudah memasuki kelas kami untuk memulai
pelajaran.
**
“
cindy, pulang bareng gue yuk. Gue gag dijemput nih” rengek via setelah
pelajaran selesai.
“
enak aja, gue ada rapat tau ama kak reza. Lu pulang duluan gih” jawabku
mengusirnya.
“
Ih, emnak dasar lu yah. Demi kak reza ajah lu biarin sahabat lu ini pulang
sendirian. Gag asik lu”
“
aduh vi, lu kan udah gede. Masak gag
bisa pulang sendiri sih.”
“
iya.. iya.. gue pulang. Awas lu ya minta-minta tolong ama gue lagi”
Aku
hanya tertawa mendengar perkataan via, dan ak membiarkan via berlalu
dihadapanku. Ya sudahlah, ucapku dalam hati sambil bergegas menuju ruang osis
untuk melangsungkan rapat yang tadi sedah kujanjikan dengan kak reza.
Rapat
berakhir dan mulai besok aku sudah harus disibukkan dengan kegiatan amalku
mengumpulkan sumbangan kegiatan sekolah peduli. Yah walaupun itu adalah
kegiatan yang paling kubenci bersama via dulu, tapi kali ini merupakan kegiatan
yang paing indah buatku. Hihi, demi kak reza.
“
cindy..!” panggil kak reza sambil berlari kearahku yang saat ini sedang berdiri
didepan pintu.
“
iyah kak..!” jawabku sigap.
“
makasih yah udah mau bantu kakak, kakak yakin kamu pasti bisa jadi panitia yang
baik.” Ucap kak reza sambil menggenggam tangan kananku.
OMG...
betapa terkejut dan gugupnya aku.
“ i
i iya kak, sama-sama”
“
ya udah kalo begitu aku duluan yah” kak reza berlari meninggalkan aku.
Aku
masih tak bergerak dari tempat aku berdiri tadi, serius aku bahagia banget. Aku
ciumi tanganku yang baru saja digenggam olehnya sambil melompat-lompat
kegirangan. Tapi lompatan dan ekspresi wajahku berubah saat ku tau pria aneh
itu ternyata duduk didepan ruang osis dan memperhatikan aku. Huh, menyebalkan.
Aku langsung berjalan meninggalkan ruang osis tanpa menoleh kearah pria itu.
***
“
wah banyak juga nih barang rampokan lu cin” ejek via yang sedari tadi ternyata
memperhatikan aku yang lagi membereskan barang-barang sumbangan dari para
siswa.
“
sialan lu vi, barang-barang penuh nerkah ni. Rezeky tau buat orang-orang yang
sodara-sodara kita dipanti asuhan” tangkisku dengan wajah galak.
“
oh yah? Kayaknya sekarang itu baru rezeky buat lu dech. Belum buat
sodara-sodara kita yah” ejek via lagi.
“
bener juga sih”. Jawabku sambil nyengir, lalu kami berdua tertawa bersama.
“
eh cin, ini ada barang sumbangan ni” kata seorang siswa dengan meletakkan
karton sebesar kotak TV 21 inch di sebelahku.
“
wow, banyak banget bro.” longokku kedalam karton besar itu.
“
mana bagus-bagus lagi masihan barangnya.” Via ikut-ikutan melihat isi didalam karton itu.
“
iyah beneran cin, barangnya masih bagus-bagus. Gag salah lu coy?”
“
ye.. bukan dari gue kali. Ini ada uang sumbangannya juga.” Siswa laki-laki itu
menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat ketanganku.
“
Lha terus dari siapa? Ini juga uangnya dari siapa?” tanyaku heran.
“
Itu dari penggemar rahasia lu tu. Tadi dia nitipin ini ke gue. Udah yah gue
cabut dulu.” Kata siswa itu sambil keluar meninggalkan kami berdua.
“
Hebat tu cowok cin, gag nanggung-nanggung sumbangannya. Beneran cinta kali dia
tu cin ama lu.”
“
ah gag usah ngarang deh lu, lu kira lagi mata pelajaran bahasa indonesia nih.”
Sangkal ku dengan kesal.
“
kali ajah cin.”
“
ini juga barang buat buat gue kali vi, jadi lu gag usah berfatamorgana dech.”
“ yah
memang bukan buat lo kali cin, tapi itu namanya dia beneran simpati sama lu
cin.”
“
ah udah deh
vi gag usah ceramah lu, gue mau bungkus-bungkusin ni barang dulu.”
“
ya udah kalo gitu, gue ke kantin yah.” Via akhirnya berjalan ninggalin gue.
Biarin deh, daripada itu
bocah bawel mulu dan bikin gue naik darah.
Tak
lama kemudian kak reza datang mengahampiriku yang tengah sibuk membenahi semua
barang-barang yang terkumpul.
“
udah kekumpul banyak ni cin..?”
“
eh ada kak reza, iyah kak Alhamdulillah lumayan lah.”
“
bagus deh kalo begitu cin, acara penyerahannya kan besok. Jadi kalo baru
terkumpul sedikit kan gag seru juga”
“
Hehe, iyah juga yah kak. Makanya hari ini kita harus lembur kak, biar besok
tinggal serahin ajah.”
“ tapi
cin, aku gag bisa loh bantuin kamu lembur hari ini.”
“
Lha, emank kenapa kak?”
“ kakak
harus ngantarin mama kakak kerumah nenek nih cin, jadi kakak harus pulang cepet
deh.”
“
oh gitu yah kak, ya udah deh kak gag apa-apa kok cindy sendiri. Serahin aja
semua sama cindy yah kak.” Kekecewaanku ku tutupi dengan semangatku. Yah, biar
kak reza makin simpati sama aku.
“
aduh makasih yah cin, kamu itu memang is
the best deh. Kak reza
meninggalkanku sambil menepuk bahuku. Hemz, kecewa sih karena gag ditemenin,
tapi gag apa-apa deh. Mungkin ini hukuman karena niat aku dikegiatan amal ini
Cuma karena kak reza.
***
“
Gile..! udah jam 9 malam rupanya. Gawat gue mesti buru-buru pulang nih.” Segera
kurapikan semua barang yang sudah kubungkus dan kususun. Dan aku bergegas
meninggalkan ruang osis.
Sebagian lampu sekolah sudah banyak
yang dimatikan, karena memang ini sudah cukup malam. Semakin kupercepat
langkahku meninggalkan lorong sekolah yang terasa jadi sedikit angker.
Sesampainya di depan gerbang sekolah,
betapa terkejutnya aku ketika kulihat jalanan sepi dan tidak ada satupun
kendaraan yang lewat.
“
mana ada kendaraan lagi
mbak jam segini.” Kata satpam yang tengah duduk dipos.
“
iyah nih pak, kemalaman saya.”
Untung saja rumahku berada tidak jauh
dari sekolah, sekitar setangah jam lah kalo jalan kaki dari sekolah. Cukup
seram juga sih, karena daerah disekitar tempat tinggalku terkenal rawan dan
sedikit berbahaya jika malam hari.
Tak
berapa lama aku berjalan, aku merasa diikuti oleh sesorang. Dengan gerakan
penuh ketakutan kupalingkan wajahku kebelakang. Oh, ternyata benar. Pria aneh
yang kata orang penggemarku ternyata dia mengikutiku. Sedikit bersyukur karena
yang mengikutiku bukan orang jahat, tapi aku kesal kenapa dia selalu ada dimana
saja aku berada. Dan itu tandanya sedari tadi dia menungguku disekolah. Aku
berhenti dan berbalik kearahnya. Dia diam dan menunduk.
“
Lu tu siapa sih..?! kenapa lu selalu ajah ngikutin gue..!”. semprotku saat aku
berdiri tepat dihadapannya. Dia tetap diam dan hanya melihatku denga ekspresi
datar seperti biasanya. Gila, ini benar-benar gila. Dan aku tidak tau apa lagi
yang harus kulakukan selain kembali berjalan pulang kerumahku, dia tetap
mengikutiku. Aku tak peduli.
Sampai aku masuk kearea rumahku aku
tetap melihat dia berada tak jauh dari aku, tapi aku tak peduli dan menutup
pagar rumahku. Dia berjalan pulang sepertinya,
but i don’t care.
****
Aku berlari menuju ruang osis karena
aku sudah terlambat untuk mengantarkan barang-barang untuk kegiatan sekolah
peduli. Tapi sesampainya aku diruang osis, betapa terkejutnya aku ketika
kulihat tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa disana. Kutanya pada
seseoarang yang sedang duduk didepan ruang osis, katanya anak-anak osis udah
berangkat kepanti asuhan dari satu jam yang lalu.
Kenapa mereka ninggalin aku? Tanyaku
dalam hati. Aku langsung bergegas menuju panti asuhan juga, mungkin mereka
meninggalkan aku karena aku terlambat.
Sesampainya aku dipanti asuhan itu,
aku lihat para panitia sudah membagikan sumbangan kepada para yatim piatu yang
ada disana. Aku langsung membantu
sebisaku, karena aku sadar aku sudah terlambat. Aku melihat kak reza tengah
asik bekerja dan bercengkrama dengan seorang wanita, tanpa melihatku sama
sekali. Dia adalah kak Nova, siswi sma kami juga dan dia adalah sekretaris
osis.
“
eh kak nova itu ceweknya kak reza yah sis?” tanyaku pada siska yang ada
disebelahku dan juga anak osis.
“
kemana ajah lu cin, kok baru tau sekarang..?”
Hampir
pingsan aku mendengar pernyataan siska barusan. Tapi berusaha tak kaget sama
sekali.
“
biasanya kan dia ketua panitia kegiatan ini, tapi karena kak siska lagi ada
olimpiade jadi lu deh yang jadi tumbalnya” sambung siska lagi dengan nada
datar.
Kali ini aku tak bisa lagi menahan kesedihanku karena
kak reza ternyata hanya memanfaatkan aku. Buktinya dia melupakan aku setelah
kegiatan ini berlangsung dan aku tidak berguna lagi. Aku berjalan menjauh
meninggalkan kegiatan.
Aku meneteskan air mataku diantara
lipatan kakiku sambil aku duduk di rumput taman belakang kota. Disini sepi,
jadi aku bisa menangis sekencang kencangnya tanpa ada yang melihatku. Tapi
tiba-tiba ada yang menyodorkan tissue kearahku, aku terkejut dan buru-buru
menyeka air mataku.
Ternyata dia adalah pria aneh yang
selalu mengikutiku seperti juga hari ini. Aku mengambil tissue itu, dan dia
pergi meninggalkan aku. Tapi dia tidak benar-benar pergi, dia mengambil jarak
setidaknya 5 meter dari tempat dudukku dan duduk disana. Aku tau dia terus
menemaniku, tapi aku tidak memperdulikannya. Aku terlalu sedih dengan kejadian
yang menimpaku. Tapi merasa nyaman karena ada yang memperhatikan dan menemaniku, sampai
matahari berjalan menyembunyikan dirinya.
****
“
ada yang aneh deh cin..”
“
apa? Kak reza? Gue udah gag ngefans lagi ama dia. Ilfil gue..!” jawabku dengan
ketus kepada via dikantin sekolah pagi itu.
“
bukan, tapi penggemar rahasia lu itu loh. Kok dia gag ada yah hari ini.”
“ iyah
juga yah...” kataku sambil melihat disekelilingku. Memang pria itu tidak ada.
Beberapa
hari kemudian aku tetap tidak melihat pria itu, dan aku semakin merasa
kehilangan. Aku sudah merasa terbiasa dijaga olehnya sejak dia menemaniku
berjalan pulang dan saat aku menangis ditaman.
Aku mencoba mencari dia, tapi aku tak
tau siapa namanya. Untunglah semua orang tau kalo dia pemuja rahasiaku, dan
mereka memberitahuku. Mereka bilang dia memang beberapa hari ini tidak masuk
sekolah tapi tidak tau apa alasannya.
Akhirnya siang itu ketika aku hendak
pulang sekolah, pak satpam sekolah menghampiriku dan memberiku sepucuk surat.
“
ini ada titipan dari pemuja rahasianya mbak” kata satpam itu.
“
terima kasih yah pak, bapak kenal yah sama orang itu pak?”
“
ya kenal dong mbak, dia mas Arga murid sekolah ini juga. dia kelas dua to
sekarang?” aku mengganggung, itupun baru kutau tadi.
“ tapi
kasian mas arga mbak, waktu liburan kenaikan kelas kemarin. Dia mengalami
kecelakaan. Dan kecelakaan itu merusak pita suaranya mbak, makanya dia jadi gag
bisa ngomong.”
Aku
tercengang mendengar pernyataan dari pak satpam, merasa sangat bersalah karena
telah memperlakukanya secara tidak baik. Aku segera pulang dan menuju kamar
untuk segera membaca surat dari arga. Kubuka surat darinya dengan amplop warna
biru muda.
Dear Cindy Anita
Aku
tau kamu tak pernah menerima aku dalam kehidupan kamu.
Aku
tau kamu merasa terganggu dengan keberadaanku.
Aku
tau kamu membenciku karena aku selalu membuatmu kesal.
Tapi kamu telah memberikan warna didalam
kehidupanku yang datar ini.
Tapi kamu telah menjadikanku bahagia dengan
kebiasaan baruku menemanimu.
Tapi aku ingin kau menungguku, menungguku
meyebutkan namamu dengan menggunakan suaraku.
Aku ingin itu....
Aku sangat mencintai kamu, dalam diamku...
Arga Alvero
Aku meneteskan air mataku ketika aku
selesai mebaca surat darinya. Aku tak tau kapan aku merasa dia mulai berati
bagiku. Tapi aku merasa sangat berharga ketika memberikan surat ini untukku. Dan
batinku berbisik lirih diantara tangisku
“
Arga, aku akan menunggu kamu.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar