Seni

Seni

Jumat, 08 November 2013

Dalam Diam

Aku tidak pernah tau siapa dia. Iya, tidak pernah tau. Bahkan sampai aku meletakkan hatiku didalam hatinya. Aku juga tetap tidak tau siapa dirinya. Yang aku tau hanyalah, dia mencintaiku. Dan itu yang membuatku mencintainya.
Arga alvero, itulah satu-satunya yang aku tau tentang dia, namanya. Itupun baru aku ketahui dalam surat yang dia tulis untukku saat terakhir kali aku melihatnya. Setidaknya sebelum dia pergi meninggalkankku dan berjanji akan kembali lagi. Mungkin itu alasanku kenapa aku menunggunya, dan memiliki alasan untuk mencintainya.
Cerita itu bermula enam bulan yang lalu, saat aku masih duduk dikelas satu semester satu di SMA Jati Mulya. Sekarang aku sudah masuk ke semester dua. Aku merupakan anak baru banyak yang banyak menyita perhatian para kakak kelas. Iyah, itu karen aku adalah satu-satunya calon murid yang paling membangkang pas masa orientasi. Jadi mereka banyak kenal sama aku dech.
Aku rasa dia adalah kakak seniorku waktu itu, tapi aku tak pernah tau. Aku hanya tau orang-orang sering bilang kalo dia selau memperhatikan aku dan selalu ada dimanapun aku berada. Huft, menggangu banget rasanya.
Aku tidak pernah mempedulikannya. Yah, sama sekali tidak pernah mempedulikannya. Mungkin karena terlalu terhanyut dengan kepopuleranku yang aktif menjadi anggota OSIS. Padahal tujuanku menjadi anggota OSIS hanya lah untuk supaya lebih dekat dengan kakak senior idolaku, Kak Reza sang ketua OSIS.
“ Eh Cin, kak reza nyariin kamu tu tadi” ucap via saat dia baru nemuin aku duduk di kantin.
“ Ha.. Seriusan lu vi..???” sambut semangat dengan pernyataan via tadi.
“ iyah serius gue, emank keliatan becanda apa yah. Itu ditunggu diruang osis katanya”
“oke-oke gue kesana sekarang yah.” Girangku sambil langsung berdiri dan hendak berlari.
“Eh mau kemana lu, tunggu dulu.” Via malah mencegahku dengan tarikan tangannya.
“apaan lagi sih vi, gue buru-buru nih. Tar kak rezanya keburu pergi kali. Kan lumayan ni pagi-pagi gue bisa ketemu dia kan.”
“ Eh tunggu dulu, tu liat pemuja rahasia lu. Emank gag pernah absen yah dia ngikutin lu.” Kata via sambil mengarahkan wajahnya ke bangku yang ada di pokok kanan kantin.
Iya, disana memang sedang duduk seorang pria dengan seragam sma yang memiliki wajah lumayan tampan, tapi aneh. Dan orang-orang bilang dia adalah pemuja rahasiaku, karena dimana ada aku disitu juga ada dia.
Aku melihat kearah yang dituju wajah via, pria itu melihatku. Tapi ekspresinya datar. Benar-benar aneh.
“ udah ah, orang aneh gitu gag usah diurusin yah.” aku berlari meninggalkan via yang menggantikanku duduk dikursi kantin tadi.
*
“kak reza cari saya?” sapaku ketika meihat sosok kak reza yang lagi duduk di kursi ketua osis.
“ oh iyah cindy, sini duduk gih” perintah kak reza sambil menarikkan kursi disebelahnya untukku. Sumpah, ini benar-benar mebuatku deg-degan.
“ ada yang bisa saya bantu kak?” tanyaku sembari aku duduk.
“ ada, kamu kamu mau kan jadi ketua panitia acara sekolah peduli minggu depan?”
Wah, kak reza menawari aku menjadi ketua panitia di kegiatan bulanan sekolah. Aku gag mimpikan?. Langsung saja aku iyakan permintaanya tak lebih dari 10 detik aku perpikir.
“ iyah kak mau”
“ oke kalo begitu nanti sore kita rapat yah”
Aku pergi meninggalkan ruang osis saat bel tanda masuk sekolah berbunyi, begitupun kak reza. Kalian bisa bayangkan bagaimana perasaanku waktu itu? bahagia luar biasa.
“ vi lu tau tadi kak reza bilang apa sama gue?” todongku ke via saat kulihat dia sedang duduk dikursinya.
“ ha apa? Doi nembak lu yah?”
“ ih bukan lah”
“ wah, gag seru lah”
“ eh tetep seru kali, dia minta gue jadi ketua panitia kegiatan sekolah peduli. Hebatkan ?”
“ dimana hebatnya? Itu artinya lu bakal jadi pengemis yang minta-minta barang bekas dan sumbangan kelas-kelas. Lu kok mau sih?”
Whatever lah, yang penting gue bisa dekat sama kak reza.”
Aku dan via tak lagi melanjutkan perbincangan kami, karena buk rahma guru matematika sudah memasuki kelas kami untuk memulai pelajaran.
**
“ cindy, pulang bareng gue yuk. Gue gag dijemput nih” rengek via setelah pelajaran selesai.
“ enak aja, gue ada rapat tau ama kak reza. Lu pulang duluan gih” jawabku mengusirnya.
“ Ih, emnak dasar lu yah. Demi kak reza ajah lu biarin sahabat lu ini pulang sendirian. Gag asik lu”
“ aduh vi, lu kan udah gede. Masak gag bisa pulang sendiri sih.”
“ iya.. iya.. gue pulang. Awas lu ya minta-minta tolong ama gue lagi”
Aku hanya tertawa mendengar perkataan via, dan ak membiarkan via berlalu dihadapanku. Ya sudahlah, ucapku dalam hati sambil bergegas menuju ruang osis untuk melangsungkan rapat yang tadi sedah kujanjikan dengan kak reza.
Rapat berakhir dan mulai besok aku sudah harus disibukkan dengan kegiatan amalku mengumpulkan sumbangan kegiatan sekolah peduli. Yah walaupun itu adalah kegiatan yang paling kubenci bersama via dulu, tapi kali ini merupakan kegiatan yang paing indah buatku. Hihi, demi kak reza.
“ cindy..!” panggil kak reza sambil berlari kearahku yang saat ini sedang berdiri didepan pintu.
“ iyah kak..!” jawabku sigap.
“ makasih yah udah mau bantu kakak, kakak yakin kamu pasti bisa jadi panitia yang baik.” Ucap kak reza sambil menggenggam tangan kananku.
OMG... betapa terkejut dan gugupnya aku.
“ i i iya kak, sama-sama”
“ ya udah kalo begitu aku duluan yah” kak reza berlari meninggalkan aku.
Aku masih tak bergerak dari tempat aku berdiri tadi, serius aku bahagia banget. Aku ciumi tanganku yang baru saja digenggam olehnya sambil melompat-lompat kegirangan. Tapi lompatan dan ekspresi wajahku berubah saat ku tau pria aneh itu ternyata duduk didepan ruang osis dan memperhatikan aku. Huh, menyebalkan. Aku langsung berjalan meninggalkan ruang osis tanpa menoleh kearah pria itu.
***
“ wah banyak juga nih barang rampokan lu cin” ejek via yang sedari tadi ternyata memperhatikan aku yang lagi membereskan barang-barang sumbangan dari para siswa.
“ sialan lu vi, barang-barang penuh nerkah ni. Rezeky tau buat orang-orang yang sodara-sodara kita dipanti asuhan” tangkisku dengan wajah galak.
“ oh yah? Kayaknya sekarang itu baru rezeky buat lu dech. Belum buat sodara-sodara kita yah” ejek via lagi.
“ bener juga sih”. Jawabku sambil nyengir, lalu kami berdua tertawa bersama.
“ eh cin, ini ada barang sumbangan ni” kata seorang siswa dengan meletakkan karton sebesar kotak TV 21 inch di sebelahku.
“ wow, banyak banget bro.” longokku kedalam karton besar itu.
“ mana bagus-bagus lagi masihan barangnya.” Via ikut-ikutan melihat isi didalam karton itu.
“ iyah beneran cin, barangnya masih bagus-bagus. Gag salah lu coy?”
“ ye.. bukan dari gue kali. Ini ada uang sumbangannya juga.” Siswa laki-laki itu menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat ketanganku.
“ Lha terus dari siapa? Ini juga uangnya dari siapa?” tanyaku heran.
“ Itu dari penggemar rahasia lu tu. Tadi dia nitipin ini ke gue. Udah yah gue cabut dulu.” Kata siswa itu sambil keluar meninggalkan kami berdua.
“ Hebat tu cowok cin, gag nanggung-nanggung sumbangannya. Beneran cinta kali dia tu cin ama lu.”
“ ah gag usah ngarang deh lu, lu kira lagi mata pelajaran bahasa indonesia nih.” Sangkal ku dengan kesal.
“ kali ajah cin.”
“ ini juga barang buat buat gue kali vi, jadi lu gag usah berfatamorgana dech.”
“ yah memang bukan buat lo kali cin, tapi itu namanya dia beneran simpati sama lu cin.”
“ ah udah deh vi gag usah ceramah lu, gue mau bungkus-bungkusin ni barang dulu.”
“ ya udah kalo gitu, gue ke kantin yah.” Via akhirnya berjalan ninggalin gue. Biarin deh, daripada itu bocah bawel mulu dan bikin gue naik darah.

Tak lama kemudian kak reza datang mengahampiriku yang tengah sibuk membenahi semua barang-barang yang terkumpul.
“ udah kekumpul banyak ni cin..?”
“ eh ada kak reza, iyah kak Alhamdulillah lumayan lah.”
“ bagus deh kalo begitu cin, acara penyerahannya kan besok. Jadi kalo baru terkumpul sedikit kan gag seru juga”
“ Hehe, iyah juga yah kak. Makanya hari ini kita harus lembur kak, biar besok tinggal serahin ajah.”
“ tapi cin, aku gag bisa loh bantuin kamu lembur hari ini.”
“ Lha, emank kenapa kak?”
“ kakak harus ngantarin mama kakak kerumah nenek nih cin, jadi kakak harus pulang cepet deh.”
“ oh gitu yah kak, ya udah deh kak gag apa-apa kok cindy sendiri. Serahin aja semua sama cindy yah kak.” Kekecewaanku ku tutupi dengan semangatku. Yah, biar kak reza makin simpati sama aku.
“ aduh makasih yah cin, kamu itu memang is the best  deh. Kak reza meninggalkanku sambil menepuk bahuku. Hemz, kecewa sih karena gag ditemenin, tapi gag apa-apa deh. Mungkin ini hukuman karena niat aku dikegiatan amal ini Cuma karena kak reza.
***
“ Gile..! udah jam 9 malam rupanya. Gawat gue mesti buru-buru pulang nih.” Segera kurapikan semua barang yang sudah kubungkus dan kususun. Dan aku bergegas meninggalkan ruang osis.
          Sebagian lampu sekolah sudah banyak yang dimatikan, karena memang ini sudah cukup malam. Semakin kupercepat langkahku meninggalkan lorong sekolah yang terasa jadi sedikit angker.
          Sesampainya di depan gerbang sekolah, betapa terkejutnya aku ketika kulihat jalanan sepi dan tidak ada satupun kendaraan yang lewat.
“ mana ada kendaraan lagi mbak jam segini.” Kata satpam yang tengah duduk dipos.
“ iyah nih pak, kemalaman saya.”
          Untung saja rumahku berada tidak jauh dari sekolah, sekitar setangah jam lah kalo jalan kaki dari sekolah. Cukup seram juga sih, karena daerah disekitar tempat tinggalku terkenal rawan dan sedikit berbahaya jika malam hari.
Tak berapa lama aku berjalan, aku merasa diikuti oleh sesorang. Dengan gerakan penuh ketakutan kupalingkan wajahku kebelakang. Oh, ternyata benar. Pria aneh yang kata orang penggemarku ternyata dia mengikutiku. Sedikit bersyukur karena yang mengikutiku bukan orang jahat, tapi aku kesal kenapa dia selalu ada dimana saja aku berada. Dan itu tandanya sedari tadi dia menungguku disekolah. Aku berhenti dan berbalik kearahnya. Dia diam dan menunduk.
“ Lu tu siapa sih..?! kenapa lu selalu ajah ngikutin gue..!”. semprotku saat aku berdiri tepat dihadapannya. Dia tetap diam dan hanya melihatku denga ekspresi datar seperti biasanya. Gila, ini benar-benar gila. Dan aku tidak tau apa lagi yang harus kulakukan selain kembali berjalan pulang kerumahku, dia tetap mengikutiku. Aku tak peduli.
          Sampai aku masuk kearea rumahku aku tetap melihat dia berada tak jauh dari aku, tapi aku tak peduli dan menutup pagar rumahku. Dia berjalan pulang sepertinya, but i don’t care.
****
          Aku berlari menuju ruang osis karena aku sudah terlambat untuk mengantarkan barang-barang untuk kegiatan sekolah peduli. Tapi sesampainya aku diruang osis, betapa terkejutnya aku ketika kulihat tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa disana. Kutanya pada seseoarang yang sedang duduk didepan ruang osis, katanya anak-anak osis udah berangkat kepanti asuhan dari satu jam yang lalu.
          Kenapa mereka ninggalin aku? Tanyaku dalam hati. Aku langsung bergegas menuju panti asuhan juga, mungkin mereka meninggalkan aku karena aku terlambat.
          Sesampainya aku dipanti asuhan itu, aku lihat para panitia sudah membagikan sumbangan kepada para yatim piatu yang ada disana. Aku langsung membantu sebisaku, karena aku sadar aku sudah terlambat. Aku melihat kak reza tengah asik bekerja dan bercengkrama dengan seorang wanita, tanpa melihatku sama sekali. Dia adalah kak Nova, siswi sma kami juga dan dia adalah sekretaris osis.
“ eh kak nova itu ceweknya kak reza yah sis?” tanyaku pada siska yang ada disebelahku dan juga anak osis.
“ kemana ajah lu cin, kok baru tau sekarang..?”
Hampir pingsan aku mendengar pernyataan siska barusan. Tapi berusaha tak kaget sama sekali.
“ biasanya kan dia ketua panitia kegiatan ini, tapi karena kak siska lagi ada olimpiade jadi lu deh yang jadi tumbalnya” sambung siska lagi dengan nada datar.
          Kali ini aku tak bisa lagi menahan kesedihanku karena kak reza ternyata hanya memanfaatkan aku. Buktinya dia melupakan aku setelah kegiatan ini berlangsung dan aku tidak berguna lagi. Aku berjalan menjauh meninggalkan kegiatan.
          Aku meneteskan air mataku diantara lipatan kakiku sambil aku duduk di rumput taman belakang kota. Disini sepi, jadi aku bisa menangis sekencang kencangnya tanpa ada yang melihatku. Tapi tiba-tiba ada yang menyodorkan tissue kearahku, aku terkejut dan buru-buru menyeka air mataku.
          Ternyata dia adalah pria aneh yang selalu mengikutiku seperti juga hari ini. Aku mengambil tissue itu, dan dia pergi meninggalkan aku. Tapi dia tidak benar-benar pergi, dia mengambil jarak setidaknya 5 meter dari tempat dudukku dan duduk disana. Aku tau dia terus menemaniku, tapi aku tidak memperdulikannya. Aku terlalu sedih dengan kejadian yang menimpaku. Tapi merasa nyaman karena ada yang memperhatikan dan menemaniku, sampai matahari berjalan menyembunyikan dirinya.
****
“ ada yang aneh deh cin..”
“ apa? Kak reza? Gue udah gag ngefans lagi ama dia. Ilfil gue..!” jawabku dengan ketus kepada via dikantin sekolah pagi itu.
“ bukan, tapi penggemar rahasia lu itu loh. Kok dia gag ada yah hari ini.”
“ iyah juga yah...” kataku sambil melihat disekelilingku. Memang pria itu tidak ada.
Beberapa hari kemudian aku tetap tidak melihat pria itu, dan aku semakin merasa kehilangan. Aku sudah merasa terbiasa dijaga olehnya sejak dia menemaniku berjalan pulang dan saat aku menangis ditaman.
          Aku mencoba mencari dia, tapi aku tak tau siapa namanya. Untunglah semua orang tau kalo dia pemuja rahasiaku, dan mereka memberitahuku. Mereka bilang dia memang beberapa hari ini tidak masuk sekolah tapi tidak tau apa alasannya.
          Akhirnya siang itu ketika aku hendak pulang sekolah, pak satpam sekolah menghampiriku dan memberiku sepucuk surat.
“ ini ada titipan dari pemuja rahasianya mbak” kata satpam itu.
“ terima kasih yah pak, bapak kenal yah sama orang itu pak?”
“ ya kenal dong mbak, dia mas Arga murid sekolah ini juga. dia kelas dua to sekarang?” aku mengganggung, itupun baru kutau tadi.
“ tapi kasian mas arga mbak, waktu liburan kenaikan kelas kemarin. Dia mengalami kecelakaan. Dan kecelakaan itu merusak pita suaranya mbak, makanya dia jadi gag bisa ngomong.”
Aku tercengang mendengar pernyataan dari pak satpam, merasa sangat bersalah karena telah memperlakukanya secara tidak baik. Aku segera pulang dan menuju kamar untuk segera membaca surat dari arga. Kubuka surat darinya dengan amplop warna biru muda.
Dear Cindy Anita
            Aku tau kamu tak pernah menerima aku dalam kehidupan kamu.
            Aku tau kamu merasa terganggu dengan keberadaanku.
            Aku tau kamu membenciku karena aku selalu membuatmu kesal.
Tapi kamu telah memberikan warna didalam kehidupanku yang datar ini.
Tapi kamu telah menjadikanku bahagia dengan kebiasaan baruku menemanimu.
Tapi aku ingin kau menungguku, menungguku meyebutkan namamu dengan menggunakan suaraku.
Aku ingin itu....
Aku sangat mencintai kamu, dalam diamku...
Arga Alvero
          Aku meneteskan air mataku ketika aku selesai mebaca surat darinya. Aku tak tau kapan aku merasa dia mulai berati bagiku. Tapi aku merasa sangat berharga ketika memberikan surat ini untukku. Dan batinku berbisik lirih diantara tangisku

Arga, aku akan menunggu kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar