Namaku
Dirga, Dirgantara Amupraja. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Semua
adikku perempuan. Aku tidak terlahir dari keluarga yang kaya raya, tapi cukup
disegani dan berpengaruh disekolah. Aku tidak berasal dari keluarga yang broken home tapi aku sangat doyan
berantem dan tawuran.
Aku
hampir dikeluarkan dari sekolah
karena kenakalanku, tapi karena aku adalah andalan sekolah dalam olipiade sains
kimia, sekolah tetap mempertahankanku.
Siang
itu aku tengah nongkrong dengan
teman-teman satu genk ku ditaman
belakang sekolah kami. Kami cabut berlima disana.
“
lo gag masuk kelas dir? Ini kan jam nya lu masuk kelas.” Tanya Briant kepadaku.
“
iyah nih, cabut mulu lo kerjanya. Kalo kita kan emank jam olahraga bray..”
tambah Riko lagi.
“
Ah brisik lo pada, gue males masuk. Bosen gue didalam kelas. Gag ada
pencerahan.” Jawabku santai sambil terus menghisap sebatang rokok ditanganku.
“
gimana bisa jadi dokter lu dir kalo males sekolah.” Celetuk Dimas.
Mereka
berempat serepak tertawa terbahak-bahak sambil melempar dimas dengan kotak rokok yang sudah kosong.
“
Sialan lo semua yah..! gue gag mau jadi dokter..!”
“ Sekiranya Dirga bisa memenuhi
cita-cita kami sebagai orang tua untuk menjadi seorang dokter.” kata Riko
sambil menirukan gaya papa nya Dirga.
” Nah gitu tu
kata bokap lo pas ceramah ambil raport lo kemaren”.
“
iyah bray, bokap lo kan selalu bilang gitu pas lo jadi juara umum.” Kembali
Briant menimpali “ kalo kita-kita ini kan emank bukan siapa-siapa, punya otak
juga udah seneng. Ya gag?”
Mereka
kembali tetawa mendengar perkataan briant.
“
yang mau jadi dokter kan bokap gue, bukan gue.”
Yah memang sejak kecil papa dan mama
selalu bercita-cita agar aku bisa menjadi seorang dokter. Karena Silvy adikku
mengalami cacat sejak lahir sehingga dia tidak bisa berjalan sampai usianya
menginjak 13 tahun ini, dan lebih tertarik dengan dunia musik. Dea adik
bungsuku juga lebih menyukai dunia modeling sejak masih di taman kanak-kanak
dan sekarang
duduk di kelas 5 sekolah dasar. Aku harapan papa dan mama satu-satunya, karena
aku cukup ekspert dibidang sains
sejak kecil. Tapi tidak pernah mau
menjadi seorang dokter, entah apa alasanku menolaknya. Dan aku lebih suka nongkrong
diterminal ketimbang mengerjakan semua perintah papa dan mama untuk belajar.
*
“
Bray, si edo kemaren jatoh didepan SMK Putra jaya..!” todong Briant pada aku and the genk yang lagi asik sarapan dikantin, walaupun bel
masuk sekolah sudah berbunyi.
“
serius lo bray?” tanya Riko.
“
serius lah.! Emank lo liat muka’ gue lagi becanda yah. Ini gag bisa dibiarin
bray..!”
“
setuju, kita harus bikin perhitungan sama anak-anak SMK Putra Jaya. Mereka udah
mulai bertingkah lagi tuh sejak penyerangan kita bulan lalu.” Kata Dimas.
“
Oke setuju, gimana menurut lo dir?” tanya Riko.
“
Ya udah tunggu apa lagi, kita habisin mereka pulang sekolah ntar..!” jawabku
menggerakkan mereka.
Pagi itu aku dan briant mempersiapkan
semua perlengkapan untuk menyerang anak-anak SMA Putra Jaya, yah tawuran lah
istilahnya. Sementara Riko dan Dimas mengumpulkan semua anggota untuk
penyerangan nanti siang. Dan kami sekali lagi meninggalkan semua mata pelajaran
hari ini.
Rupanya SMK Putra Jaya telah mendengar
rencana penyerangan kami, entah darimana sembernya. Dan meraka juga telah
mempersiapkan tentara perlawanan untuk kami. Karena SMA kami dan SMK Putra Jaya
memang merupakan musuh bebuyutan sejak jaman nenek moyang senior-senior kami.
Sesampainya didepan SMK Putra Jaya,
mereka telah menyambut
kami dengan puluhan anggota lengkap dengan broti, balok, batu, kayu dan semua
perlangkapan tawuran. Dan sejurus kemudian pertarungan itu tak bisa terelakkan
lagi, karena kami juga sangat emosi melihat tingkah dan tampang mereka.
Tawuran berlangsung cukup sengit, aku
yang tadinya berada dibaris depan terpaksa harus mundur karena sabetan balok membuat lengan kiriku memar. Aku
bersembunyi sementara dibalik pohon besar untuk menyiapkan tenaga dan serangan
selanjutnya. Tawuran kali ini memang cukup berat bagiku, karena anggota dari
masing-masing sekolah kami juga terus menerus bertambah. Suasana saat itu
seperti pertarungan dibawah hujan batu, karena tak henti-hentinya lemparan batu berdatangan dari segala
arah.
Tiba-tiba dalam pandanganku ada
seorang wanita yang tengah berada diantara kerumunan tawuran kami, mungkin dia
dari Putra Jaya karena aku tak pernah membawa murid wanita untuk ikut tawuran.
Atau mungkin dia terjabak disini saat tawuran ini berlangsung?. Aku merasa
cemas melihatnya. Tapi ternyata tidak, dia juga ikut andil dalam pertarungan
ini. Sama sekali aku tak melihat adanya ketakutan dari matanya. Dilihat dari
seragamnya dia memang anak Putra Jaya. Dalam hati aku kagum, ternyata ada wanita sekuat dia. Tapi
tak berapa lama kemudian, sebuah lemparan batu besar mendarat tepat dikepala
sebelah kirinya. Aku terlambat menyadarinya dan tak bisa mencegahnya. Dia
terjatuh dan pingsan.
Aku langsung berlari kearahnya dan
segerah menyelamatkan tubuhnya sebelum terinjak dan terkena benda-benda keras
lainnya. Aku menggendongnya dan membawanya menjauh dari keramaian, tapi kulihat
darah yang keluar dari kepalanya semakin deras. Aku takut, dan kuputuskan untuk
melarikannya kerumah sakit. Dan meninggalkan arena tawuran yang kupimpin. Darah
segar membasahi sebagian wajahnya yang putih, dan dia tetap terlihat sangat
cantik dalam kondisi seperti itu.
**
“
gimana keadaan gadis itu dok?” tanyaku pada dokter yang menangani gadis itu. Dokter itu
memanggilku keruangannya karena saat dia selesai menangani gadis itu, aku
sedang mengangkat telfon dari Briant.
“ namanya
laras yah?” tanya dokter itu. Aku hanya mengangguk ragu karena aku memang tidak
tau siapa namanya. Mungkin dokter itu melihat nametag dari seragamnya.
“
Laras gag apa-apa kok, tidak ada luka serius dikepalanya. Hanya saja tadi
lukanya tepat mengenai pembuluh darahnya, jadi darah yang keluar banyak sekali.
Dia sudah siuman kok tadi.”
Oh
syukurlah kalo dia gag kenapa-kenapa. Selesai mengucapkan terima kasih aku
langsung meninggalkan ruangan dokter itu dan berjalan menuju kasir untuk
menyelesaikan administrasi penanganan laras tadi. Setelah selesai aku langsung
menuju ruang IGD tempat laras ditangani
dokter untuk melihat bagaimana keadaannya.
Sesampainya aku di IGD, ternyata sudah tidak ada
siapa-siapa disana. Aku bertanya pada suster yang baru saja keluar dari ruangan
itu, katanya gadis yang ditangani disana sudah
meninggalkan IDG 10 menit yang lalu.
“ Dasar cewek preman, lagi
sakit juga masih bisa kabur.” Ucapku dalam hati sembari berjalan keluar dari rumah sakit.
***
Seminggu
setelah kejadian itu aku masih tidak bisa melupakan gadis itu. Kata dokter
namanya laras. Tapi aku juga tidak pernah bertemu dengannya lagi, karena tak
mungkin aku mengunjunginya ke SMK Putra Jaya. Gila’ aja, Bisa mati konyol aku dikeroyok satu
sekolah nanti.
Aku
tidak masuk sekolah hari ini, tapi juga tidak mau berkumpul besama dengan teman-teman
genk ku. Mereka masih sering
mengejekku karena aku kabur dari tawuran tempo hari sebelum polisi
membubarkannya. Aku berada diterminal bus sekarang, tempat alternatif nongkrong
favoritku selain club malam dan tempat ngepool.
Aku
duduk disebuah kedai kopi sambil menikmati sebatang rokok. Tiba-iba pandanganku
kembali diusik oleh sosok yang sama seperti saat tawuran waktu itu. Yah, tidak
salah lagi gadis yang menjadi tukang parkir itu adalah laras, gadis yang sama
yang ikut tawuran denganku. Aku langsung bergegas menghampirinya.
“
Hey, Lo Laras kan?” tanya ku padanya saat ia sedang menghitung beberapa uang
receh ditangannya. Dia sedikit terkejut dan memandangku.
“
Oh, Lu Dirga kan..” katanya sambil berjalan meninggalkan aku. Aku terkejut
karena dia tau namaku. Aku berlari
mengejarnya.
“
Kok lo tau nama gue? Lo kenal yah sama gue.” Tanyaku penasaran
Laras
berhenti dan duduk diwarung tempat aku duduk tadi.
“
kenal lah, kan lo yang udah bawa gue
kerumah sakit kemaren.” Jawabnya sambil meminum teh botol ditangannya.
“
kok lo kabur kemaren?”
“
Hehe, gue takut disuruh bayar biaya rumah sakit. Makanya gue kabur.” Jawab
laras sambil nyengir, cantik sekali.
“ harusnya
lo gag usah kabur, gue udah bayar semua kok.”
“
iyah makasih, tapi gue gag punya duit yah sekarang. Jadi kalo lo mau nagih,
sori banget yah. Lo urungin ajah niat lo. ”
“
siapa yang mau nagih, gue tadi kebetulan kok nongkrong disini. Oh iya, kok lo
tau nama gue, gue kan gag pernah memperkenalkan diri gue pas dirumah sakit.”
“
Siapa sih yang gag kenal Dirgantara Amupraja, Juara satu olimpiade sains kimia
sejakarta mewakili SMAN 10 Jakarta yang hobinya cabut, mimpin tawuran, ngeclub sama nongkrong di terminal.”
“
lo tau banyak tentang gue? Lo anak Putra Jaya yah?” tanyaku makin heran. Dia
mengangguk. Aku semakin tertarik berbicara dengannya. Benar-benar bikin aku
penasaran, kupesan satu lagi teh botoh untuk menemani perbincangan kami,
kayaknya bakalan panjang.
“
iyah lah, temen gue yang pinter-pinter kenal sama lo, yang preman-preman juga
kenal kan sama lo.”
“ Oh
yah, ajaib lo yah tau banyak tentang gue. Tapi kok gue baru liat lo jadi tukang
parkir disini. Gag sekolah lo?”
“ Hari
ini Cuma praktek doang tadi pagi. Gue mah kerja apa aja, kadang tukang parkir,
kadang pengamen, kadang jual koran, kadang jual rokok, kuli angkat barang, yah
macem-macem lah. Yang penting bisa makan sama bayar sekolah.”
“
Terus, kenapa
lo ikut tawuran kemaren?”
“
Oh, gue dibayar tu buat ikut tawuran.” Jawabya sambil tertawa ” kalo demo, kempanye
sama tawuran yang dibayar gue sering ikut.”
“
Cuma karena dibayar lo mau naruhin nyawa lo gitu? Kalo lo mati gimana?”
“
Nah lo bisa mikir lo rupanya, gue mah mending demi uang ikut tawuranan. Kao lo demi apa tawuran? Gag ada kan?. Kalo pun
misalnya gue mati gag masalah, gue gag punya siapa-siapa ini. Gue yatim piatu.
Nah kalo lo, lo punya keluarga kan?”
Aku mengangguk mendengar pertanyaan Laras.
Sepertinya dia benar, kenapa aku tidak pernah memikirkan perasaan keluargaku, dan apa tujuanku
dengan semua tindakan konyol ini. Aku menjadi semakin kagum dan penasaran
dengannya.
“ Keluarga
lo pengen lo jadi apa?” tiba-tiba Laras menodongku dengan pertanyaannya.
“
Heemm,, Dokter.” Jawabku singkat.
“
Nah keren tu, mereka pasti bakal mati-matian nguliahin lo ke jurusan kedokteran
deh. Gue juga dari kecil pengen jadi dokter, tapi gue realistis pas udah gede’, jadi dokter itu mahal.”
“
Trus sekarang cita-cita lo apa?”
“
Gue yakin gag bakal bisa kuliah pas udah kelar sekolah ntar, jadi setelah gue
lulus gue mau kerja pake skill gue.
Dan bisa cari duit lebih
banyak dari sekarang. Lagian kalo gue udah lulus ntar, waktu gue buat cari duit
jadi lebih banyak.”
Aku
heran sekaligus tertegun mendengar pernyataan demi pernyataan yang terlontar
dari gadis itu. Usia nya sama denganku, tapi dia jauh lebih kuat dariku. Sangat realistis dan
penuh semangat. Bisa-bisanya dia masih tersenyum dalam kehidupanya yang 1000
kali lebih keras dari kehidupanku.
“
Lo kelas tiga kan sekarang?” tanyanya sambil menyerakan uang kepada pemilik
warung. Sepertinya dia mentraktirku.
“
Iya, emank kenapa?”
“
Belajar lagi yang bener, jangan tawuran lagi. Lo beruntung masih punya orang
yang bisa lo perjuangin. Oke.”
Dia
berdiri dan berjalan meningalkanku, sementara aku masih mematung ditempat
dudukku memikirkan semua perkataannya.
“
Oh yah satu lagi dir, Gue titip cita-cita gue ke lo yah? Lo harus bisa jadi
dokter.” Dia menoleh kembali kearahku dan mengatakan kalimat itu sambil
tersenyum. Aku pun tersenyum membalasnya, dan mengangguk tanda setuju dengan tawarannya.
Sepulang dari terminal aku langsung menemui
papa dan mama, dan meminta maaf pada mereka. Aku berjanji akan berjuang untuk
memenuhi semua keinginan papa dan mama, untuk tidak membangkang lagi, untuk
tidak suka cabut lagi, untuk tidak tawuran lagi dan untuk tidak ke club malam
lagi. Lalu papa memintaku berjanji lagi untuk tidak nongkrong diterminal lagi. Tadinya
aku berpikir keberatan, karena aku pasti tidak bisa bertemu dengan Laras lagi,
tapi aku sudah berjanji untuk tidak membangkang lagi, jadi aku setuju dengan
papa. Silvy dan Dea adikku menangis melihatku memeluk papa dan mama, meraka
tidak pernah melihat aku sebaik itu.
Akhirnya, aku kembali menjuarai
olimpiade sains kimia sejakarta tahun ini. Dan mendapatkan beasiswa untuk
kuliah di UGM. Aku juga lulus dengan Nilai tertinggi ketiga sejakarta. Semua
teman-teman dan keluargaku bangga padaku. Ini semua karena kamu Laras, kamu
yang telah menyadarkanku.
Aku berjanji Laras, aku berjanji untuk berjuang
menjadi seorang dokter, untuk mewujudkan cita-citamu. Dan setelah aku menjadi
dokter nanti, aku akan mencarimu Laras, akan menjadikanmu bagian terindah
didalam hidupku. Karena kaulah inspirasiku, Laras.. kaulah gadis yang kulihat
ditengah hujan batu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar