Seni

Seni

Selasa, 12 November 2013

Aku Melihatmu Ditengah Hujan Batu

Namaku Dirga, Dirgantara Amupraja. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Semua adikku perempuan. Aku tidak terlahir dari keluarga yang kaya raya, tapi cukup disegani dan berpengaruh disekolah. Aku tidak berasal dari keluarga yang broken home tapi aku sangat doyan berantem dan tawuran.
Aku hampir dikeluarkan dari sekolah karena kenakalanku, tapi karena aku adalah andalan sekolah dalam olipiade sains kimia, sekolah tetap mempertahankanku.
Siang itu aku tengah nongkrong dengan teman-teman satu genk ku ditaman belakang sekolah kami. Kami cabut berlima disana.
“ lo gag masuk kelas dir? Ini kan jam nya lu masuk kelas.” Tanya Briant kepadaku.
“ iyah nih, cabut mulu lo kerjanya. Kalo kita kan emank jam olahraga bray..” tambah Riko lagi.
“ Ah brisik lo pada, gue males masuk. Bosen gue didalam kelas. Gag ada pencerahan.” Jawabku santai sambil terus menghisap sebatang rokok ditanganku.
“ gimana bisa jadi dokter lu dir kalo males sekolah.” Celetuk Dimas.
Mereka berempat serepak tertawa terbahak-bahak sambil melempar dimas dengan kotak rokok yang sudah kosong.
“ Sialan lo semua yah..! gue gag mau jadi dokter..!”
“ Sekiranya Dirga bisa memenuhi cita-cita kami sebagai orang tua untuk menjadi seorang dokter.” kata Riko sambil menirukan gaya papa nya Dirga. ” Nah gitu tu kata bokap lo pas ceramah ambil raport lo kemaren”.
“ iyah bray, bokap lo kan selalu bilang gitu pas lo jadi juara umum.” Kembali Briant menimpali “ kalo kita-kita ini kan emank bukan siapa-siapa, punya otak juga udah seneng. Ya gag?”
Mereka kembali tetawa mendengar perkataan briant.
“ yang mau jadi dokter kan bokap gue, bukan gue.”
          Yah memang sejak kecil papa dan mama selalu bercita-cita agar aku bisa menjadi seorang dokter. Karena Silvy adikku mengalami cacat sejak lahir sehingga dia tidak bisa berjalan sampai usianya menginjak 13 tahun ini, dan lebih tertarik dengan dunia musik. Dea adik bungsuku juga lebih menyukai dunia modeling sejak masih di taman kanak-kanak dan sekarang duduk di kelas 5 sekolah dasar. Aku harapan papa dan mama satu-satunya, karena aku cukup ekspert dibidang sains sejak kecil. Tapi tidak pernah mau menjadi seorang dokter, entah apa alasanku menolaknya. Dan aku lebih suka nongkrong diterminal ketimbang mengerjakan semua perintah papa dan mama untuk belajar.
*
“ Bray, si edo kemaren jatoh didepan SMK Putra jaya..!” todong Briant pada aku and the genk  yang lagi asik sarapan dikantin, walaupun bel masuk sekolah sudah berbunyi.
“ serius lo bray?” tanya Riko.
“ serius lah.! Emank lo liat muka’ gue lagi becanda yah. Ini gag bisa dibiarin bray..!”
“ setuju, kita harus bikin perhitungan sama anak-anak SMK Putra Jaya. Mereka udah mulai bertingkah lagi tuh sejak penyerangan kita bulan lalu.” Kata Dimas.
“ Oke setuju, gimana menurut lo dir?” tanya Riko.
“ Ya udah tunggu apa lagi, kita habisin mereka pulang sekolah ntar..!” jawabku menggerakkan mereka.
          Pagi itu aku dan briant mempersiapkan semua perlengkapan untuk menyerang anak-anak SMA Putra Jaya, yah tawuran lah istilahnya. Sementara Riko dan Dimas mengumpulkan semua anggota untuk penyerangan nanti siang. Dan kami sekali lagi meninggalkan semua mata pelajaran hari ini.
          Rupanya SMK Putra Jaya telah mendengar rencana penyerangan kami, entah darimana sembernya. Dan meraka juga telah mempersiapkan tentara perlawanan untuk kami. Karena SMA kami dan SMK Putra Jaya memang merupakan musuh bebuyutan sejak jaman nenek moyang senior-senior kami.
          Sesampainya didepan SMK Putra Jaya, mereka telah menyambut kami dengan puluhan anggota lengkap dengan broti, balok, batu, kayu dan semua perlangkapan tawuran. Dan sejurus kemudian pertarungan itu tak bisa terelakkan lagi, karena kami juga sangat emosi melihat tingkah dan tampang mereka.
          Tawuran berlangsung cukup sengit, aku yang tadinya berada dibaris depan terpaksa harus mundur karena sabetan balok membuat lengan kiriku memar. Aku bersembunyi sementara dibalik pohon besar untuk menyiapkan tenaga dan serangan selanjutnya. Tawuran kali ini memang cukup berat bagiku, karena anggota dari masing-masing sekolah kami juga terus menerus bertambah. Suasana saat itu seperti pertarungan dibawah hujan batu, karena tak henti-hentinya lemparan batu berdatangan dari segala arah.
          Tiba-tiba dalam pandanganku ada seorang wanita yang tengah berada diantara kerumunan tawuran kami, mungkin dia dari Putra Jaya karena aku tak pernah membawa murid wanita untuk ikut tawuran. Atau mungkin dia terjabak disini saat tawuran ini berlangsung?. Aku merasa cemas melihatnya. Tapi ternyata tidak, dia juga ikut andil dalam pertarungan ini. Sama sekali aku tak melihat adanya ketakutan dari matanya. Dilihat dari seragamnya dia memang anak Putra Jaya. Dalam hati aku kagum, ternyata ada wanita sekuat dia. Tapi tak berapa lama kemudian, sebuah lemparan batu besar mendarat tepat dikepala sebelah kirinya. Aku terlambat menyadarinya dan tak bisa mencegahnya. Dia terjatuh dan pingsan.
          Aku langsung berlari kearahnya dan segerah menyelamatkan tubuhnya sebelum terinjak dan terkena benda-benda keras lainnya. Aku menggendongnya dan membawanya menjauh dari keramaian, tapi kulihat darah yang keluar dari kepalanya semakin deras. Aku takut, dan kuputuskan untuk melarikannya kerumah sakit. Dan meninggalkan arena tawuran yang kupimpin. Darah segar membasahi sebagian wajahnya yang putih, dan dia tetap terlihat sangat cantik dalam kondisi seperti itu.
**
“ gimana keadaan gadis itu dok?” tanyaku pada dokter yang menangani gadis itu. Dokter itu memanggilku keruangannya karena saat dia selesai menangani gadis itu, aku sedang mengangkat telfon dari Briant.
“ namanya laras yah?” tanya dokter itu. Aku hanya mengangguk ragu karena aku memang tidak tau siapa namanya. Mungkin dokter itu melihat nametag dari seragamnya.
“ Laras gag apa-apa kok, tidak ada luka serius dikepalanya. Hanya saja tadi lukanya tepat mengenai pembuluh darahnya, jadi darah yang keluar banyak sekali. Dia sudah siuman kok tadi.”
Oh syukurlah kalo dia gag kenapa-kenapa. Selesai mengucapkan terima kasih aku langsung meninggalkan ruangan dokter itu dan berjalan menuju kasir untuk menyelesaikan administrasi penanganan laras tadi. Setelah selesai aku langsung menuju ruang IGD tempat laras ditangani dokter untuk melihat bagaimana keadaannya.
          Sesampainya aku di IGD, ternyata sudah tidak ada siapa-siapa disana. Aku bertanya pada suster yang baru saja keluar dari ruangan itu, katanya gadis yang ditangani disana sudah meninggalkan IDG 10 menit yang lalu.
Dasar cewek preman, lagi sakit juga masih bisa kabur.” Ucapku dalam hati sembari berjalan keluar dari rumah sakit.
***
Seminggu setelah kejadian itu aku masih tidak bisa melupakan gadis itu. Kata dokter namanya laras. Tapi aku juga tidak pernah bertemu dengannya lagi, karena tak mungkin aku mengunjunginya ke SMK Putra Jaya. Gila’ aja, Bisa mati konyol aku dikeroyok satu sekolah nanti.
Aku tidak masuk sekolah hari ini, tapi juga tidak mau berkumpul besama dengan teman-teman genk ku. Mereka masih sering mengejekku karena aku kabur dari tawuran tempo hari sebelum polisi membubarkannya. Aku berada diterminal bus sekarang, tempat alternatif nongkrong  favoritku selain club malam dan tempat ngepool.
Aku duduk disebuah kedai kopi sambil menikmati sebatang rokok. Tiba-iba pandanganku kembali diusik oleh sosok yang sama seperti saat tawuran waktu itu. Yah, tidak salah lagi gadis yang menjadi tukang parkir itu adalah laras, gadis yang sama yang ikut tawuran denganku. Aku langsung bergegas menghampirinya.
“ Hey, Lo Laras kan?” tanya ku padanya saat ia sedang menghitung beberapa uang receh ditangannya. Dia sedikit terkejut dan memandangku.
“ Oh, Lu Dirga kan..” katanya sambil berjalan meninggalkan aku. Aku terkejut karena dia tau namaku.  Aku berlari mengejarnya.
“ Kok lo tau nama gue? Lo kenal yah sama gue.” Tanyaku penasaran
Laras berhenti dan duduk diwarung tempat aku duduk tadi.
“ kenal lah, kan lo yang udah bawa gue kerumah sakit kemaren.” Jawabnya sambil meminum teh botol ditangannya.
“ kok lo kabur kemaren?”
“ Hehe, gue takut disuruh bayar biaya rumah sakit. Makanya gue kabur.” Jawab laras sambil nyengir, cantik sekali.
“ harusnya lo gag usah kabur, gue udah bayar semua kok.”
“ iyah makasih, tapi gue gag punya duit yah sekarang. Jadi kalo lo mau nagih, sori banget yah. Lo urungin ajah niat lo. ”
“ siapa yang mau nagih, gue tadi kebetulan kok nongkrong disini. Oh iya, kok lo tau nama gue, gue kan gag pernah memperkenalkan diri gue pas dirumah sakit.”
“ Siapa sih yang gag kenal Dirgantara Amupraja, Juara satu olimpiade sains kimia sejakarta mewakili SMAN 10 Jakarta yang hobinya cabut, mimpin tawuran, ngeclub sama nongkrong di terminal.”
“ lo tau banyak tentang gue? Lo anak Putra Jaya yah?” tanyaku makin heran. Dia mengangguk. Aku semakin tertarik berbicara dengannya. Benar-benar bikin aku penasaran, kupesan satu lagi teh botoh untuk menemani perbincangan kami, kayaknya bakalan panjang.
“ iyah lah, temen gue yang pinter-pinter kenal sama lo, yang preman-preman juga kenal kan sama lo.”
“ Oh yah, ajaib lo yah tau banyak tentang gue. Tapi kok gue baru liat lo jadi tukang parkir disini. Gag sekolah lo?”
“ Hari ini Cuma praktek doang tadi pagi. Gue mah kerja apa aja, kadang tukang parkir, kadang pengamen, kadang jual koran, kadang jual rokok, kuli angkat barang, yah macem-macem lah. Yang penting bisa makan sama bayar sekolah.”
“ Terus, kenapa lo ikut tawuran kemaren?”
“ Oh, gue dibayar tu buat ikut tawuran.” Jawabya sambil tertawa ” kalo demo, kempanye sama tawuran yang dibayar gue sering ikut.”
“ Cuma karena dibayar lo mau naruhin nyawa lo gitu? Kalo lo mati gimana?”
“ Nah lo bisa mikir lo rupanya, gue mah mending demi uang ikut tawuranan. Kao lo demi apa tawuran? Gag ada kan?. Kalo pun misalnya gue mati gag masalah, gue gag punya siapa-siapa ini. Gue yatim piatu. Nah kalo lo, lo punya keluarga kan?”
          Aku mengangguk mendengar pertanyaan Laras. Sepertinya dia benar, kenapa aku tidak pernah memikirkan perasaan keluargaku, dan apa tujuanku dengan semua tindakan konyol ini. Aku menjadi semakin kagum dan penasaran dengannya.
“ Keluarga lo pengen lo jadi apa?” tiba-tiba Laras menodongku dengan pertanyaannya.
“ Heemm,, Dokter.” Jawabku singkat.
“ Nah keren tu, mereka pasti bakal mati-matian nguliahin lo ke jurusan kedokteran deh. Gue juga dari kecil pengen jadi dokter, tapi gue realistis pas udah gede’, jadi dokter itu mahal.”
“ Trus sekarang cita-cita lo apa?”
“ Gue yakin gag bakal bisa kuliah pas udah kelar sekolah ntar, jadi setelah gue lulus gue mau kerja pake skill gue. Dan bisa cari duit lebih banyak dari sekarang. Lagian kalo gue udah lulus ntar, waktu gue buat cari duit jadi lebih banyak.”
Aku heran sekaligus tertegun mendengar pernyataan demi pernyataan yang terlontar dari gadis itu. Usia nya sama denganku, tapi dia jauh lebih kuat dariku. Sangat realistis dan penuh semangat. Bisa-bisanya dia masih tersenyum dalam kehidupanya yang 1000 kali lebih keras dari kehidupanku.
“ Lo kelas tiga kan sekarang?” tanyanya sambil menyerakan uang kepada pemilik warung. Sepertinya dia mentraktirku.
“ Iya, emank kenapa?”
“ Belajar lagi yang bener, jangan tawuran lagi. Lo beruntung masih punya orang yang bisa lo perjuangin. Oke.”
Dia berdiri dan berjalan meningalkanku, sementara aku masih mematung ditempat dudukku memikirkan semua perkataannya.
“ Oh yah satu lagi dir, Gue titip cita-cita gue ke lo yah? Lo harus bisa jadi dokter.” Dia menoleh kembali kearahku dan mengatakan kalimat itu sambil tersenyum. Aku pun tersenyum membalasnya, dan mengangguk tanda setuju dengan tawarannya.
          Sepulang dari terminal aku langsung menemui papa dan mama, dan meminta maaf pada mereka. Aku berjanji akan berjuang untuk memenuhi semua keinginan papa dan mama, untuk tidak membangkang lagi, untuk tidak suka cabut lagi, untuk tidak tawuran lagi dan untuk tidak ke club malam lagi. Lalu papa memintaku berjanji lagi untuk tidak nongkrong  diterminal lagi. Tadinya aku berpikir keberatan, karena aku pasti tidak bisa bertemu dengan Laras lagi, tapi aku sudah berjanji untuk tidak membangkang lagi, jadi aku setuju dengan papa. Silvy dan Dea adikku menangis melihatku memeluk papa dan mama, meraka tidak pernah melihat aku sebaik itu.
          Akhirnya, aku kembali menjuarai olimpiade sains kimia sejakarta tahun ini. Dan mendapatkan beasiswa untuk kuliah di UGM. Aku juga lulus dengan Nilai tertinggi ketiga sejakarta. Semua teman-teman dan keluargaku bangga padaku. Ini semua karena kamu Laras, kamu yang telah menyadarkanku.
          Aku berjanji Laras, aku berjanji untuk berjuang menjadi seorang dokter, untuk mewujudkan cita-citamu. Dan setelah aku menjadi dokter nanti, aku akan mencarimu Laras, akan menjadikanmu bagian terindah didalam hidupku. Karena kaulah inspirasiku, Laras.. kaulah gadis yang kulihat ditengah hujan batu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar