Seni

Seni

Senin, 27 Januari 2014

Sinopsis Novel Badadari-Bidadari Surga


Bidadari-Bidadari Surga adalah Novel Karya Tere Liye.
Novel ini setebal 368 lembar, dan saya butuh waktu beberapa hari untuk menyelesaikannya.
Karena gak full time baca.
___________________________________________
Dalam epilog novel ini, Tere-Liye menulis:

"Dengarkanlah kabar gembira ini.
Wahai wanita-wanita yang hingga usia tiga puluh, empat puluh, atau lebih dari itu,
tapi belum juga menikah (mungkin karena keterbatasan fisik, kesempatan, atau tidak pernah ‘terpilih’ di dunia yang amat keterlaluan mencintai materi dan tampilan wajah),
yakinlah, wanita-wanita shalehah yang sendiri, namun tetap mengisi hidupnya dengan indah,
berbagi, berbuat baik, dan bersyukur, kelak di hari akhir sungguh akan menjadi bidadari-bidadari surga.
Dan kabar baik itu pastilah benar. Bidadari surga parasnya cantik luar biasa."

(sebuah pemehaman yang sederhana dan luar biasa)
___________________________________________
Novel ini sangat berbeda.
Berbeda sekali dengan novel pada kebanyakan yang melulu bertema cinta.
Memang semua novel Tere Liye rata-rata begitu.
Selalu mengangkat tema keluarga, yang berbonus cerita cinta.
Bukan malah sebaliknya seperti kebanyakan.
___________________________________________
Novel ini mengisahkan cerita hidup luar biasa dari sebuah keluarga sederhana di Lembah Lahambai.
Adalah kak Laisa, tokoh utama di novel ini.
Ia adalah seorang wanita yang memiliki kekurangan fisik. Kulitnya Hitam, Badannya pendek (saat dewasa hanya setinggi dada adik-adiknya), gemuk, berambut gimbal dan bertubuh gempal.
Hal ini dikarenakan kecelakaan yang ia alami sewaktu bayi, ia jatuh kedalam baskom air dan hampir mati.
Ia jatuh kedalam baskom karena ayahnya yang mabuk lalai menjaganya, sementara Mamak pergi bekerja.
Hal ini menyebabkan pertumbuhan badannya terhambat. Dan rambut gimbal serta kulit hitam adalah keturunan dari ayahnya.
Ia mungkin tidak memiliki kecantikan fisik yang didambakan oleh setiap lelaki, tetapi ia memiliki kecantikan hati yang luar biasa yang mungkin sebetulnya lebih dibutuhkan oleh semua lelaki.
Ia rela putus sekolah saat kelas 4 SD agar adik-adiknya tetap bisa bersekolah. Ia lebih memilih bekerja dikebun membantu mamaknya.

Kak Laisa mempunyai Empat orang adik Laisa, 3 orang laki-laki dan 1 orang wnaita.
Empat adik Laisa tersebut bernama Dalimunte, Ika Nuri, Wibisana dan Yashinta.
Mereka memiliki wajah yang sangat tampan dan cantik, bahkan paling cantik dan tampan dikampungnya.
Selain cantik dan tampan mereka merupakan anak-anak yang jenius, cerdas, pemberani, kreatif, bertanggung jawab dan mandiri.

Dalimunte adalah adik paling besarnya. Ia sangat tampan dan cerdas.
Ia adalah satu-satunya adik Laisa yang paling rajin sekolah, sehingga Laisa tidak pernah memarahinya.
Setelah besar ia menjadi seorang profesor, semua itu berkat kincir air buatannya yang berhasil membuat pengairan di Lembah Lahambai.
Ia menjadi mempunyai keberanian untuk berbicara didepan umum karena kakaknya Laisa.

Yang kedua dan ketiga adalah Ika nuri dan Wibisana, Mereka berdua adalah kakak beradik yang hanya beda satu tahun.
Namun tampak seperti saudara kembar. Mereka berdua sangat kompak, terutama dalam kenakalan mereka.
Ikanuri dan Wibisana sangat sering dimarahi oleh kak laisa bahkan mamak karena kenakalan mereka.
Dan setelah dewasa mereka membangun bisnis bengkel mobil bersama. Itu adalah hobi mereka.

Dan yang terakhir adalah Yashinta, adik perempuan mereka yang paling disayang.
Karena Yashinta sangat manis dan baik hati. Yashinta tadinya sempat berpikir bahwa nasibnya akan sama dengan Laisa tidak bersekolah, karena ia anak perempuan.
Yashinta sangat menyukai dunia fauna, apalagi fauna langka karena sewaktu kecil ia diajak oleh kak Laisa untuk melihat anak berang-berang.
Dan setelah dewasa ia menjadi ahli di konservasi satwa liar.

Ke empat adiknya Dalimunte, wibisana, ikanuri dan yashinta begitu beruntung memiliki kakak sebaik, setangguh, sekuat kak laisa. Peran laisa untuk keempat adiknya sangatlah berarti, ketika mamak lainuri yang seorang janda yang ditinggal mati sang suami karena diterkam harimau di gunung kewalahan membiayai hidup dan sekolah anak-anaknya, laisa gadis gimbal dan gempal ini rela meninggalkan sekolahnya demi kelangsungan hidup dan biaya sekolah adik-adiknya walaupun pada awalnya mamak menolak kinginan laisa, tetapi aisa tetap memaksa biarlah laisa yang mengalah. Laisa sejak umur 12 tahun membantu mamak bekerja di ladang di tengah panas terik matahari yang membuat kulitnya semakin menghitam. Laisa adalah anak dari mantan suami mamak yang pergi meninggalkannya, walau begitu kasih sayang mamak terhadapnya sama seperti anak mamak lainnya, begitupun laisa menyangi mamak seperti ibu kandungannya sendiri dan menyayangi adik-adiknya seperti sadara kandung.

Kehidupan mereka membaik ketika ladang strawberry yang merukan tanaman uji coba kak Laisa berhasil. Setelah sebelumnya gagal karena keterbatasan pengetahuan Laisa, hal ini menyebabkan Dalimunte menunda satu tahun kesolahnya di SMP. Namun setelah itu, kehidupan mereka semakin membaik. Janji kehidupan yang lebih baik yang biasa kak Laisa katakan akhirnya datang.

Berat hati mereka ketika waktu untuk menikah datang, sedang Laisa dengan fisik yang tidak ‘sempurna’ belum juga menikah, dalimunte, ikanuri, wibisana dan yashinta keempatnya tidak enak hati untuk ‘melintas’ kak laisa. Berbagai cara mereka lakukan untuk mencarikan kak laisa jodoh. Namun yang mereka dapatkan hanyalah penolakan bahkan cacian.

Namun, semakin lama muncul sebuah pemahaman yang baik dari dalam diri Laisa yang memang sudah sangat baik.
Ia menerima bahwa akhirnya kehidupan tak hanya untuk menikah, namun ada yang lebih dari itu yaitu melihat dan merasakan kebahagiakan disekitarnya.
Sampai akhirnya diakhir usianya Laisa yang saat itu menderita kangker, Ia tak juga menemukan pasangan hidupnya. Dan ia tak bersedih hati karena Allah sudah memberikan kebahagiaan yang lebih dari itu.
Adik-adik yang sukses, Mamak yang sehat, Ladang strawberry ribuan hektar yang memajukan kampung dan jogoh bagi adik-adiknya.
Sesederhana itulah kebahagiaan.
________________________________________
Beberapa Kata-kata indah yang ada di Novel ini yaitu :

"Kau tidak perlu menunggu Kakak.... Sungguh. Sama sekali tidak perlu. Kelahiran, kematian,
jodoh semua sudah ditentukan. Masing-masing memiliki jadwal. Giliran—"  

"Buat apa kau memikirkan apa yang dipikirkan orang atas pernikahan kau. Buat apa kau
memikirkan apa yang dipikirkan orang atas Kakak-mu. Buat apa kau memikirkan
kekhawatiran, rasa cemas, yang sejatinya mungkin tidak pernah ada. Hanya perasanperasaan.
Lihatlah, Kakak baik-baik saja."

"Dali, tentu saja sekali dua datang. Sebenarnya dulu lebih sering datang. Tapi buat apa Kakak
membuang-buang waktu memikirkan tersebut. Hidup Kakak sudah amat indah tanpa perlu
memikirkan hal-hal itu. Melihat kalian tumbuh dewasa. Dengan segala kesempatan hebat. Itu
sudah amat membahagiakan Kakak. Melihat anak-anak lembah berkesempatan sekolah.
Kehidupan mereka yang lebih baik dengan perkebunan strawberry ini. Itu sudah lebih dari
cukup.
"Kau tahu, seperti yang Kakak bilang dulu, jodoh ada di tangan Allah. Mungkin dalam
urusan ini, Kakak tidak seberuntung dibandingkan dengan memiliki adik-adik yang hebat
seperti kalian.... Dulu memang mengganggu sekali mendengar pertanyaan tetangga, tatapan
mata itu, tetapi mereka melakukannya karena mereka peduli dengan kita. Satu dua
menyampaikan rasa peduli itu dengan cara yang tidak baik, namun itu bukan masalah. Kakak
tidak pernah merasa kesepian, Dali. Bagaimana mungkin Kakak akan kesepian dengan
kehidupan seindah ini.... Kau benar, aku juga sering memikirkan umur. Sekarang usiaku tiga
puluh empat tahun. Tapi apa yang Kakak harus lakukan? Itu semua ada di tangan Allah.
Yang lebih penting aku pikirkan, dengan sisa waktu yang mungkin tidak sedikit lagi, apakah
masih berkesempatan melakukan banyak hal di lembah ini, berkesempatan melihat kalian
melakukan hal-hal hebat di luar sana. Berkesempatan membuat Mamak dengan keseharian di
perkebunan...,"

" Dalimunte sudah terlanjur membanting pintu mobil. Dia tidak membenci kenalannya
tersebut secara personal. Tapi Dalimunte lebih membenci kenyataan bahwa: terkadang betapa
munafiknya manusia dalam urusan ini. Lihatlah, kenapa pula temannya tersebut mesti
berpura-pura ada jadwal acara mendadak, ceramah di manalah hari ini. Dalimunte membenci
ukuran-ukuran relatif yang ada di kepala orang ketika mencari jodoh. Sungguh jika ada yang
ingin menilai secara objektif, Kak Laisa masuk tiga dari empat kriteria utama yang
disebutkan Nabi dalam memilih jodoh."
________________________________________
Ini adalah Puisi dalam Novel ini :

Bagai parade sejuta kupu-kupu bersayap kaca.
Menerobos atap rumah, turun dari langit-langit kamar, lantas mengambang di atas
ranjang.
Lembut menjemput.
Kak Laisa tersenyum untuk selamanya. Kembali.
Senja itu, seorang bidadari sudah kembali di tempat terbaiknya
Bergabung dengan bidadari-bidadari surga lainnya.
_______________________________________

Tidak ada komentar:

Posting Komentar